Salurkan Waqaf, Infaq dan Shadaqah/Sumbangan Anda untuk PEMBANGUNAN MASJID AD DA'WAH Jl.KH.Sirodj Salman RT.27 Samarinda melalui: BANK SYARIAH MANDIRI Rek. 7036237362

Sabtu, 06 Juni 2009

Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik


Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,
dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.
Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga "ambisi" menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.
Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya "Beranikah kamu beragama Islam?". Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, "Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu". Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu
pertanyaan.
Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, "Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe" (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An'am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.
Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi
boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.
Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,
dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan
tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,
pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa
bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul
muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada
Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.
Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan
menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan
ibadah.
Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya
kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah
nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi
adalah pengorbananku. Jadi, "shalatku, pengorbananku, hidup matiku,
lillahi rabbil alamin".

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai
kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… "Sungguh, shalatku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah". Dalam terjemah
Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang
bisa tertegun, "Hanya karena untuk Allah rabbil alamin."
Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai
R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai
Dahlan dengan terjemahan tafsir "itu tidak untuk selain Allah".
Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap
sekutu.
Lalu ayat tadi bermakna apa? "Shalatku, pengorbananku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta". Laa syarikalah, tidak
ada sekutu selain Allah. "Aku diperintah untuk hidup dengan model cara
yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk
anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan
tanah airku". Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.
Hidupku tidak untuk itu.
Pertanyaannya, lalu untuk apa? "Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela
tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan
tanah air, tetapi karena Allah". Di sini lalu maknanya, "berbuat
baiklah kamu kepada orang tuamu". Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar
karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,
tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
"wa-ahsinuu, …..birrul walidaini".
Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan "wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik
kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang
namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang
tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat
yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya'buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat
yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan
satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.
Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi
pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup
menjawab.
Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang
dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,
jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari
oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya
panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya
jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,
yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput
mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.
Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main
trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan
itu, "Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang
banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya
jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi
sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya
menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar
fitnah". Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal
ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di
jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang
punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal
qur'ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan
menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah
kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan
karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca
Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang
sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang
terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,
kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,
kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum'at Shubuh, Nabi
selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.
Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak
apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau
menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal
mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur
hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini
sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang
merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi
di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat
gado-gado.
Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,
membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,
diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung
menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.
Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan
kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat
kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada
orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika
mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji
itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu
dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.
Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,
itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima
perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,
bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya
tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,
pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini.
Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan
pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga
pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis
kalimat itu, hanya mendengar sepintas, "Hidup sepanjang kemauan
Islam".

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani
menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut
kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini
yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham
apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.
Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.
Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada
jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu
khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka
orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa
tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa
faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang
sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah
mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita
yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin
kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat
mereka dalam "wa-tawashau bil haq". Ada sebutan yang cukup populer
pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk
jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya
berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya
nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang
seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah
Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan
mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan
mengucap salam, "Selamat pagi, Pak!". Beliau bertanya, "Kamu siapa?"
"Saya mahasiswa Bapak", katanya. "Kembali sana, ucapkan dulu
"Assalamu'alaikum".
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan
"kulonuwun". Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,
padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena
berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud
pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar
Muzakkir sambil berkata, "Kibir kamu ya?" "Kenapa?" tanya orang itu.
Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya
mengucap salam "Assalamu'alaikum" kalau bertamu ke rumah orang koq
malah "kulonuwun". Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota
saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan
kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat
kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan
sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini
tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi
karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak
bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau
mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah
I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah
yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.
Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan
kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih
minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil 'alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa
quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara
membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian
ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca
Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
"Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah
wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah
bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.
Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang
Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di
Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang
adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.
Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman
Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, "Wong saya
sendiri yang menyusun koq disuruh merubah", kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,
dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan
tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya
kitab tauhid, "Al Ushulust-tsalasah",30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah
Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,
yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.
Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan
menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama
jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini
membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai
Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan
mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada
di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang
masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid'ah.
Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu
membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah
melangkah lebih lanjut.
Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,
selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak
sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang
singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian
besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan
banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan
mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang
Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir
Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu.
Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa
menjawab.
Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya
lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,
Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain,
adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup
menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.
Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,
terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto
adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu
bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.
Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui
dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.
Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober
lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita
ini termasuk sebagai pewaris falsafah "sendu" (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang
senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja
membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana
pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang
memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke
sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah
mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,
belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah
meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah
melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana
ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,
sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul
sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk
mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari
pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan
surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga
saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada
Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam
wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu
persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat
ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada
jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada
saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya
sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat
Haji Wada' jumlah jama'ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang
punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.
Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700
ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad
SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk
surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.
Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh
tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak
menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di
Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal
Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal
uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,
ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap
Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia
memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan
waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di
Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa
menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu
hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas
dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.
Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan
sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang
sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,
orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa
Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang
ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, "Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah". Orang
itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,
yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah
orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP
Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di
Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,
Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan
dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang
lalu.
Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau
sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti
RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,
sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada
satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin
diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak
jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan
pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80
ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan
warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian
diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.
Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang
Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi
membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus
kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak
AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah
sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali
ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan
seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,
dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah
tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari
200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30
juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan
kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da'i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun
ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau
juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk
membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan
Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk
mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada
sedikit yang berasal dari IPM/IRM.
Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka
masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan
keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan.
Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak
itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di
Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah
itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang
membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling
tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu
melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa
di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu
menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.
Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari
penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan "Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah" masih relevan?
Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di
majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas
ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini
sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied
di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat
itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,
tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di
lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli
lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke
mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai
dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya
ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis
dhoif.
Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring
tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah
kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk
memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman
dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah
kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh
pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk
dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,
misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur
juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di
kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu
orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami
Muhammadiyah tersebut.
Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.
Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada
benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang
masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah
menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,
untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,
dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.
Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,
dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.
Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga "ambisi" menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.
Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya "Beranikah kamu beragama Islam?". Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, "Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu". Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu
pertanyaan.
Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, "Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe" (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An'am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.
Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi
boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.
Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,
dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan
tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,
pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa
bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul
muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada
Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.
Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan
menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan
ibadah.
Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya
kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah
nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi
adalah pengorbananku. Jadi, "shalatku, pengorbananku, hidup matiku,
lillahi rabbil alamin".

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai
kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… "Sungguh, shalatku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah". Dalam terjemah
Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang
bisa tertegun, "Hanya karena untuk Allah rabbil alamin."
Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai
R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai
Dahlan dengan terjemahan tafsir "itu tidak untuk selain Allah".
Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap
sekutu.
Lalu ayat tadi bermakna apa? "Shalatku, pengorbananku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta". Laa syarikalah, tidak
ada sekutu selain Allah. "Aku diperintah untuk hidup dengan model cara
yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk
anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan
tanah airku". Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.
Hidupku tidak untuk itu.
Pertanyaannya, lalu untuk apa? "Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela
tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan
tanah air, tetapi karena Allah". Di sini lalu maknanya, "berbuat
baiklah kamu kepada orang tuamu". Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar
karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,
tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
"wa-ahsinuu, …..birrul walidaini".
Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan "wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik
kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang
namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang
tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat
yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya'buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat
yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan
satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.
Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi
pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup
menjawab.
Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang
dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,
jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari
oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya
panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya
jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,
yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput
mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.
Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main
trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan
itu, "Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang
banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya
jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi
sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya
menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar
fitnah". Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal
ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di
jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang
punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal
qur'ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan
menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah
kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan
karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca
Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang
sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang
terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,
kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,
kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum'at Shubuh, Nabi
selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.
Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak
apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau
menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal
mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur
hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini
sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang
merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi
di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat
gado-gado.
Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,
membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,
diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung
menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.
Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan
kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat
kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada
orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika
mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji
itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu
dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.
Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,
itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima
perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,
bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya
tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,
pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini.
Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan
pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga
pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis
kalimat itu, hanya mendengar sepintas, "Hidup sepanjang kemauan
Islam".

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani
menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut
kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini
yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham
apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.
Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.
Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada
jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu
khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka
orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa
tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa
faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang
sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah
mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita
yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin
kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat
mereka dalam "wa-tawashau bil haq". Ada sebutan yang cukup populer
pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk
jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya
berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya
nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang
seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah
Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan
mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan
mengucap salam, "Selamat pagi, Pak!". Beliau bertanya, "Kamu siapa?"
"Saya mahasiswa Bapak", katanya. "Kembali sana, ucapkan dulu
"Assalamu'alaikum".
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan
"kulonuwun". Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,
padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena
berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud
pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar
Muzakkir sambil berkata, "Kibir kamu ya?" "Kenapa?" tanya orang itu.
Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya
mengucap salam "Assalamu'alaikum" kalau bertamu ke rumah orang koq
malah "kulonuwun". Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota
saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan
kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat
kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan
sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini
tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi
karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak
bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau
mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah
I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah
yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.
Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan
kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih
minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil 'alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa
quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara
membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian
ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca
Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
"Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah
wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah
bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.
Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang
Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di
Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang
adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.
Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman
Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, "Wong saya
sendiri yang menyusun koq disuruh merubah", kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,
dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan
tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya
kitab tauhid, "Al Ushulust-tsalasah",30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah
Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,
yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.
Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan
menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama
jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini
membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai
Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan
mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada
di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang
masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid'ah.
Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu
membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah
melangkah lebih lanjut.
Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,
selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak
sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang
singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian
besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan
banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan
mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang
Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir
Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu.
Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa
menjawab.
Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya
lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,
Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain,
adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup
menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.
Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,
terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto
adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu
bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.
Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui
dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.
Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober
lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita
ini termasuk sebagai pewaris falsafah "sendu" (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang
senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja
membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana
pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang
memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke
sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah
mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,
belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah
meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah
melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana
ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,
sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul
sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk
mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari
pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan
surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga
saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada
Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam
wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu
persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat
ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada
jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada
saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya
sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat
Haji Wada' jumlah jama'ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang
punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.
Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700
ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad
SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk
surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.
Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh
tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak
menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di
Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal
Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal
uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,
ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap
Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia
memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan
waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di
Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa
menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu
hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas
dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.
Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan
sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang
sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,
orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa
Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang
ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, "Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah". Orang
itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,
yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah
orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP
Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di
Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,
Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan
dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang
lalu.
Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau
sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti
RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,
sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada
satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin
diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak
jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan
pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80
ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan
warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian
diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.
Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang
Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi
membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus
kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak
AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah
sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali
ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan
seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,
dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah
tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari
200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30
juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan
kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da'i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun
ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau
juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk
membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan
Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk
mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada
sedikit yang berasal dari IPM/IRM.
Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka
masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan
keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan.
Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak
itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di
Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah
itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang
membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling
tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu
melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa
di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu
menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.
Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari
penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan "Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah" masih relevan?
Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di
majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas
ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini
sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied
di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat
itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,
tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di
lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli
lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke
mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai
dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya
ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis
dhoif.
Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring
tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah
kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk
memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman
dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah
kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh
pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk
dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,
misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur
juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di
kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu
orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami
Muhammadiyah tersebut.
Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.
Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada
benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang
masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah
menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,
untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,
dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.
Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,
dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.
Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga "ambisi" menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.
Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya "Beranikah kamu beragama Islam?". Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, "Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu". Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu
pertanyaan.
Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, "Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe" (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An'am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.
Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi
boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.
Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,
dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan
tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,
pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa
bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul
muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada
Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.
Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan
menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan
ibadah.
Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya
kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah
nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi
adalah pengorbananku. Jadi, "shalatku, pengorbananku, hidup matiku,
lillahi rabbil alamin".

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai
kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… "Sungguh, shalatku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah". Dalam terjemah
Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang
bisa tertegun, "Hanya karena untuk Allah rabbil alamin."
Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai
R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai
Dahlan dengan terjemahan tafsir "itu tidak untuk selain Allah".
Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap
sekutu.
Lalu ayat tadi bermakna apa? "Shalatku, pengorbananku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta". Laa syarikalah, tidak
ada sekutu selain Allah. "Aku diperintah untuk hidup dengan model cara
yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk
anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan
tanah airku". Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.
Hidupku tidak untuk itu.
Pertanyaannya, lalu untuk apa? "Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela
tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan
tanah air, tetapi karena Allah". Di sini lalu maknanya, "berbuat
baiklah kamu kepada orang tuamu". Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar
karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,
tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
"wa-ahsinuu, …..birrul walidaini".
Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan "wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik
kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang
namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang
tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat
yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya'buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat
yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan
satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.
Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi
pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup
menjawab.
Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang
dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,
jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari
oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya
panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya
jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,
yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput
mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.
Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main
trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan
itu, "Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang
banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya
jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi
sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya
menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar
fitnah". Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal
ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di
jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang
punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal
qur'ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan
menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah
kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan
karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca
Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang
sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang
terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,
kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,
kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum'at Shubuh, Nabi
selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.
Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak
apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau
menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal
mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur
hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini
sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang
merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi
di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat
gado-gado.
Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,
membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,
diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung
menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.
Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan
kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat
kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada
orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika
mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji
itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu
dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.
Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,
itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima
perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,
bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya
tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,
pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini.
Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan
pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga
pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis
kalimat itu, hanya mendengar sepintas, "Hidup sepanjang kemauan
Islam".

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani
menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut
kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini
yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham
apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.
Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.
Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada
jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu
khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka
orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa
tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa
faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang
sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah
mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita
yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin
kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat
mereka dalam "wa-tawashau bil haq". Ada sebutan yang cukup populer
pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk
jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya
berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya
nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang
seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah
Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan
mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan
mengucap salam, "Selamat pagi, Pak!". Beliau bertanya, "Kamu siapa?"
"Saya mahasiswa Bapak", katanya. "Kembali sana, ucapkan dulu
"Assalamu'alaikum".
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan
"kulonuwun". Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,
padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena
berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud
pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar
Muzakkir sambil berkata, "Kibir kamu ya?" "Kenapa?" tanya orang itu.
Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya
mengucap salam "Assalamu'alaikum" kalau bertamu ke rumah orang koq
malah "kulonuwun". Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota
saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan
kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat
kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan
sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini
tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi
karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak
bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau
mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah
I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah
yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.
Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan
kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih
minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil 'alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa
quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara
membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian
ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca
Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
"Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah
wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah
bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.
Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang
Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di
Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang
adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.
Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman
Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, "Wong saya
sendiri yang menyusun koq disuruh merubah", kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,
dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan
tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya
kitab tauhid, "Al Ushulust-tsalasah",30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah
Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,
yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.
Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan
menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama
jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini
membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai
Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan
mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada
di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang
masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid'ah.
Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu
membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah
melangkah lebih lanjut.
Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,
selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak
sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang
singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian
besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan
banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan
mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang
Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir
Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu.
Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa
menjawab.
Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya
lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,
Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain,
adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup
menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.
Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,
terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto
adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu
bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.
Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui
dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.
Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober
lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita
ini termasuk sebagai pewaris falsafah "sendu" (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang
senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja
membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana
pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang
memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke
sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah
mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,
belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah
meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah
melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana
ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,
sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul
sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk
mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari
pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan
surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga
saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada
Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam
wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu
persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat
ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada
jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada
saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya
sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat
Haji Wada' jumlah jama'ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang
punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.
Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700
ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad
SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk
surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.
Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh
tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak
menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di
Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal
Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal
uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,
ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap
Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia
memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan
waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di
Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa
menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu
hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas
dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.
Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan
sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang
sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,
orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa
Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang
ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, "Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah". Orang
itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,
yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah
orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP
Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di
Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,
Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan
dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang
lalu.
Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau
sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti
RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,
sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada
satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin
diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak
jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan
pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80
ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan
warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian
diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.
Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang
Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi
membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus
kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak
AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah
sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali
ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan
seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,
dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah
tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari
200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30
juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan
kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da'i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun
ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau
juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk
membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan
Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk
mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada
sedikit yang berasal dari IPM/IRM.
Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka
masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan
keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan.
Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak
itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua
Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di
Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah
itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang
membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling
tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu
melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa
di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu
menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.
Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari
penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan "Hidup-hidupilah
Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah" masih relevan?
Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di
majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas
ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini
sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied
di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat
itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,
tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di
lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli
lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke
mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai
dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya
ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis
dhoif.
Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring
tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah
kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk
memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman
dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah
kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh
pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk
dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,
misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur
juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di
kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu
orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami
Muhammadiyah tersebut.
Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.
Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada
benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang
masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah
menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,
untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,
dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.
(sumber: email dari latif_ajronmoslem@yahoo.com untuk Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com)

Kamis, 02 April 2009

LOKASI PEMBANGUNAN TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 2 HANDIL TERUSAN




Dalam rangka kunjungan pembinaan ke TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Handil Terusan, telah dipasang spanduk pemberitahuan lokasi pembangunan TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 2 HANDIL TERUSAN.

Bahwa Persyarikatan telah membebaskan sebidang lahan di Desa Handil Terusan dengan ukuran 20 m x 50 m hasil dari wakaf jamaah dan simpatisan Muhammadiyah yang akan dipergunakan untuk lokasi pembangunan Gedung Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Handil Terusan. Sekarang telah terkumpul infaq sebesar enam juta sebagai modal pembangunan dimaksud, dan itu masih sangat kurang. Oleh karena itu kepada siapa saja kami mohon infaq dan bantuannya, demi terwujudnya bangunan TK Aisyiyah dimaksud. Contack Person Amir Hady, d.a Kantor Camat Anggana, Jl.Mulawarman Desa Sungai Mariam Telp.0541-682100, fax.0541-682305, HP.08125349437, atau dana infaq atau waqaf Jariah bisa ditransfer ke BANK BRI UNIT ANGGANA No. Rek. 4565.01.003179.53.3 a.n. PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH ANGGANA.

KUNJUNGAN PEMBINAAN TK AISYIYAH HANDIL TERUSAN



Dalam rangka pembinaan, maka Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Aisyiyah Kecamatan Anggana melaksanakan kunjungan ke Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) 2 yang terletak di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana. Dari ibukota Kecamatan Anggana, Desa Sungai Mariam menuju desa Handil Terusan ditempuh perjalanan lewat sungai lebih kurang 30 menit menggunakan speedboat 40 pk. Rombongan terdiri dari Ibu Rahayu selaku Ketua Majlis Dikdasmen PC Aisyiyah Kec.Anggana, Amir Hady (Wk.Ketua PC Muhammadiyah Kec.Anggana), Marpandi (Anggota PCM) dan Abdul Azis (Anggota Majlis Tabligh PCM sekaligus sopir speedboat).

TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Handil Terusan berdiri tahun 2008/2009 dan memiliki murid sebanyak 40 orang, dan guru sebanyak 5 orang. Sementara ini sekolah masih pinjam dan menggunakan gedung TK Alqur'an.

Persyarikatan telah membebaskan sebidang lahan di Desa Handil Terusan dengan ukuran 20 m x 50 m hasil dari wakaf jamaah dan simpatisan Muhammadiyah yang akan dipergunakan untuk lokasi pembangunan Gedung Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Handil Terusan. Sekarang telah terkumpul infaq sebesar enam juta sebagai modal pembangunan dimaksud, dan itu masih sangat kurang. Oleh karena itu kepada siapa saja kami mohon infaq dan bantuannya, demi terwujudnya bangunan TK Aisyiyah dimaksud. Contack Person Amir Hady, d.a Kantor Camat Anggana, Jl.Mulawarman Desa Sungai Mariam Telp.0541-682100, fax.0541-682305, HP.08125349437

Minggu, 29 Maret 2009

Lokakarya Peranan Jaringan Dalam Pengembangan Dakwah Muhammadiyah


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Samarinda pada hari sabtu tanggal 28 Maret 2009 menyelenggarakan Lokakarya Peranan Jaringan Dalam Pengembangan Dakwah Muhammadiyah. Kegiatan ini dalam rangka mengembangkan dakwah khususnya yang dibawah pembinaan Muhammadiyah di Samarinda. Narasumber dalam lokakarya ini adalah Bapak H.Agus Sukaca (Ketua PWM Kaltim), H.Siswanto Soenandar (Wakil Sekretaris PWM Kaltim), dan H.Suyatman (Direktur STIEM Samarinda). Adapun hasil lokakarya tersebut yaitu terbentuk sebuah forum komunikasi yang sekretariatnya berada di STIEM Jl.Juanda Samarinda, dan akan ditindak lanjuti dengan pertemuan berikut untuk menyusun program aksi dengan target dalam enam bulan ke depan sudah terbentuk jaringan dakwah Muhammadiyah Samarinda.

Kamis, 19 Maret 2009

PENGAJIAN BEDAH BUKU SUKSES BERMUHAMMADIYAH OLEH dr.H.AGUS SUKACA


Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur menyelenggarakan Pengajian Bedah Buku Sukses Ber-Muhammadiyah karangan dr.H.Agus Sukaca,M.Kes (Ketua PWM Kaltim) Insya Allah pada Hari Rabu 25 Maret 2009 Jam 19.30 WITA di STIE Muhammadiyah Jl.Juanda Samarinda.Dalam sambutanya Amir Hady (Ketua MTDK Kaltim) mengapresiasi atas terbitnya buku ini, dimana dikatakan sebagai JUklak/Juknis secara pribadi dari PHI Muhammadiyah. Sedangkan pembahas yaitu Slamet Bachtiar (Sekretaris PWM Kaltim) menyampaikan bahwa suksesnya masih secara pribadi , belum sukses secara amal usaha, artinya bagaimana sukses dalam beramal usaha. Acara bedah buku yang dipandu oleh Azis Muslim (Ketua MPK PWM Kaltim) berakhir tepat pukul 22.00

Minggu, 08 Maret 2009

Muhammadiyah Desak Menteri Lepas Jabatan Parpol



LAMPUNG - Pimpinan Pusat Muhammadiyah merekomendasikan sejumlah hal kepada pemerintah terkait pelaksanaan Pemilu 2009.

Rekomendasi tersebut merupakan hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah yang dilaksanakan di Hotel Sheraton, Bandar Lampung pada 5-8 Maret 2009.

Berikut rekomendasi yang disampaikan saat penutupan Sidang Tanwir yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Minggu (8/3/2009):

  • Mendesak parpol untuk tidak menjadikan pemilu sebagai ajang perebutan kursi kekuasaan yang menghalalkan segala cara, tapi sebagai momentum untuk menghasilkan legislator dan presiden yang sesuai dengan amanah rakyat.
  • Menyerukan seluruh warga negara yang memiliki hak pilih untuk memilih pemimpin yang memiliki visi dan karakter yang kuat sebagai negarawan, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, berani mengambil keputusan penting dan strategis, dan mampu menyelesaikan persoalan krusial secara tegas.
  • Meminta pemerintah agar mampu menjaga kewibawaan nasional dari berbagai ancaman dan menerapkan good governance.
  • Mendesak pemerintah untuk melepaskan jabatan di parpol dan konsentrasi memimpin bangsa.
  • Mengajak seluruh warga negara untuk menggunakan hak pilih secara cerdas dan kritis sebagai wujud perbaikan bangsa.
  • Mengajak seluruh komponen bangsa untuk menjauhkan diri dari politik uang dan cara-cara yang kotor dalam pemilu.(Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone)(lsi)

Jumat, 27 Februari 2009

Rakernas MTDK, PWM Kaltim utus peserta


Dalam rangka ikut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang Jawa Tengah pada tanggal 20 s.d 22 Februari 2009. Utusan MTDK PWM Kaltim terdiri dari Amir Hady selaku Ketua MTDK PWM Kaltim, Afif Ketua MTDK PDM Balikpapan, Abdul Kadir Pakka Ketua MTDK PDM Kutai Kartanegara dan H.Abdul Hamid Ketua MTDK PDM Kutai Barat.

Mengutip dari Ust.Syamsul Hidayat dalam muhammadiyah.or.id. bahwa Rakernas ini dimaksudkan, disamping sebagai wadah silaturrahmi antar pimpinan MTDK, juga dimaksudkan pula untuk mengelaborasi dan menghimpun berbagai pemikiran, serta menumbuhkan kesadaran bersama tentang berbagai tantangan baru dakwah Persyarikatan, serta merumuskan konsep dan strategi gerakan dalam rangka melestarikan dan merevitalisasi kemurnian Muhammadiyah.

Kemudian Rakernas MTDK ini juga akan dibicarakan agenda penting antara lain; tantangan dakwah Muhammadiyah, vitalisasi manhaj dakwah Muhammadiyah dan agenda aksi dakwah menjelang satu abad.

Senin, 16 Februari 2009

Rapat Pleno PW Muhammadiyah Kaltim

PW Muhammadiyah Kaltim telah melaksanakan Rapat Pleno diperluas pada hari Ahad tanggal 20 Shafar 1430 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Februari 2009 M, bertempat di Komplek Muhammadiyah Centre Jl.KH.Siroj Salman, Samarinda. Kegiatan ini diselengarakan dalam rangka evaluasi progress report dari unsure pembantu pimpinan, yaitu kegiatan majlis-majlis dan lembaga-lembaga tingkat wilayah, serta membrikan masukan-input bagi anggota tanwir PW Muhammadiyah Kaltim yang akan ikut Tanwir Muhammadiyah di Lampung pada bulan Maret 2009 yang akan datang.

 

Salah satu usulan yang berkembang pada rapat tersebut untuk disampaikan pada saat tanwir adalah sebuah wacana bahwa Samarinda Kalimantan Timur akan dijadikan tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke 47 tahun 2015.

 


Muhammadiyah Kaltim bangun Ma’had

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur telah memulai pembangunan gedung Ma'had Muhammadiyah Samarinda yang terletak di Komplek Muhammadiyah Centre Jl.KH.Siroj Salman, Samarinda, dengan dilaksanakannya acara Peletakan Batu Pertama oleh Bapak H.Faridz Wajdy selaku Wakil Gubernur Kalimantan Timur pada hari Ahad tanggal 20 Shafar 1430 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Februari 2009 M.

 

Bapak H.Agus Sukaca selaku ketua PW Muhammadiyah Kalimantan Timur dalam sambutannya menyampaikan bahwa dibangunnya ma'had ini adalah untuk mempersiapkan para muballigh dalam rangka melaksanakan salah satu misi Muhammadiyah, yaitu menyebarluaskan ajaran agama Islam yang bersumber pada Al Qur'an dan As Sunnah yang sahih dan maqbul, untuk mencapai visi Muhammadiyah yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

 

Kemudian, Bapak H.Faridz Wajdy selaku Wakil Gubernur Kalimantan Timur dalam sambutannya menyampaikan dukungan beliau atas pembangunan Ma'had Muhammadiyah ini, dalam rangka menghadapi tantangan dakwah Islam di Kalimantan Timur, dimana oleh beliau tantangan dakwah tersebut ada tiga, yaitu yang pertama adalah krisis keteladanan, artinya umat Islam sekarang ini sangat sulit mencari pemimpin yang bisa dijadikan teladan, yang kedua krisis moral, bahwa moral bangsa Indonesia mulai merosot, terlihat dari kuatnya penolakan atas RUU Pornografi  yang akan dijadikan undang-undang. Dan yang ketiga, krisis muballigh, makanya beliau, mengapresiasi dengan baik  pembangunan ma'had oleh Muhammadiyah Kaltim.

 


Kamis, 05 Februari 2009

Pengajian Malam Rabu : Syukur Nikmat

Ustadz H.Abdul Syukur, Muballigh Muhammadiyah dari PD Muhammadiyah Kutai Kartanegara dalam  pengajian malam rabu tanggal 3 Februari 2009 menyampaikan bahwa untuk bersyukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wa ta'ala diperlukan pemahaman terhadap tiga unsur, yaitu pertama keyakinan bahwa kita manusia ini sudah sangat banyak menerima nikmat Allah, bahkan manusia tidak akan sanggup menghitungnya. Jadi disini yang ditekankan kesadaran bahwa manusia telah dan selalu menerima nikmat Allah SWT. Jangan sampai ada anggapan bahwa manusia merasa belum atau tidak pernah menerima nikmat Allah SWT. Yang kedua yaitu keyakinan bahwa segala nikmat itu berasal dari Allah swt. Dan yang ketiga adalah upaya maksimal untuk menggunakan atau memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak dan ketentuan dari si pemberi nikmat yaitu Allah SWT.

 

Pengajian diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sidomulyo di Masjid Mujahidin Desa Sidomulyo Kec.Anggana di awali dengan sholat maghrib berjamaah, kemudian ceramah dan diakhiri dengan sholat Isya berjamaah. Rombongan dari PD Muhammadiyah Kutai Kartanegara terdiri dari Bapak H.Supriyanto (Wakil Ketua PDM) dan Bapak Abdul Kadir Pakka (Ketua MTDK PDM).


Jumat, 23 Januari 2009

Pengajian di Anggana


Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bahwasanya pengajian bagi Warga Muhammadiyah di Anggana merupakan sebuah keharusan, sebab pengajian adalah ruh dari gerakan Muhammadiyah. Demikianlah, maka tahun 2009 ini Muhammadiyah di Kecamatan Anggana, Kab.Kutai Kartanegara telah menyusun jadwal pengajian baik yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Anggana, Pimpinan Cabang Aisyiyah Anggana, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sidomulyo dan Pimpinan Ranting Aisyiyah Sidomulyo.

Dengan pengajian ini diharapkan bahwa visi dan misi Muhammadiyah bisa lebih difahami lagi oleh warga dan simpatisan Muhammadyah dan Muhammadiyah bisa menjadi tauladan dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat, terutama dalam aqidah, ibadah dan akhlaq serta muamalah duniawiyah.

Visi Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya diupayakan dengan menjalankan Misi Muhammadiyah, yaitu 1. menegakkan tauhid yang murni, 2. memahami dan menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al Qur'an dan As Sunnah Maqbullah, dan 3. mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Narasumber pada pengajian tersebut adalah dari Korps Muballigh/Muballighot Muhammadiyah, yang terdiri dari PW Muhammadiyah Kaltim, PW Aisyiyah Kaltim, PD Muhammadiyah Kab.Kukar, PD Aisyiyah Kab.Kukar, PC Muhammadiyah Anggana.

Senin, 19 Januari 2009

BAZ Salurkan Zakat Bagi Fakir Miskin




sapos.co.id.BADAN Amil Zakat (BAZ) Cabang Anggana yang merupakan binaan Kantor Urusan Agama (KUA) Anggana Kutai Kartanegara kembali menyalurkan hasil pengumpulan zakat selama tahun 2008 bagi fakir miskin. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Camat Anggana, Selasa(13/1) lalu.

Dalam laporannya, Ketua BAZ Anggana, Ir Amir Hady menerangkan, zakat yang terkumpul selama tahun 2008 sebanyak Rp33 Juta. Sementara, yang dinyatakan berhak menerima zakat tersebut sebanyak 76 orang. Orang-orang yang menerima tersebut terdiri dari berbagai kelompok yakni, fakir miskin, Muballigh atau penceramah, dan siswa-siswi yang dinyatakan kurang mampu secara ekonomi sehingga berhak menerima beasiswa.

"Tahun ini lumayan banyak yang menerima. Semuanya tidak hanya dari satu kelompok, tapi dari berbagai kelompok yang kita nyatakan tepat untuk menerima zakat ini," terang Amir dalam laporannya.

Fakir miskin dan Muballigh 45 orang, sedangkan penerima beasiswa sebanyak 31 orang. Masing-masing, untuk fakir miskin dan penerima beasiswa menerima Rp250.000. Sedangkan untuk Mubalikh atau penceramah Rp200.000. Penyerahan itu dilakukan secara simbolis Camat Anggana, Akhmad Taufik Hidayat, Spi.

Sementara, Kepala KUA Anggana, Yuliansyah S Ag mengakui bahwa jumlah tersebut masih kurang dan belum tentu memuaskan semua pihak. Namun itu dinilainya sebagai upaya yang maksimal yang telah dilakukan BAZ.

Ke depannnya ia berharap agar tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama bisa lebih meningkatkan amalnya lewat pembayaran zakat. "Semakin banyak zakat yang terkumpul, tentu semakin banyak saudara-saudara kita yang bisa terbantu perekonomiannnya. Minimal kita ringankan penderitaannya," pungkas Yuliansyah. (rm-2)

Rabu, 14 Januari 2009

Pembagian Raport TK ABA 1 Sidomulyo




Tadi pagi murid-murid TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA 1) Sidomulyo telah menerima raport untuk semester pertama. Para orang tua/wali murid semua diundang untuk hadir. Dalam kesempatan itu Ibu Irin May Hartini selaku Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA 1) Sidomulyo sempat menjelaskan bagaimana penilaian yang diisikan pada raport tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Bapak Ir.Amir Hady selaku Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Anggana dalam silaturahim itu diberi kesempatan untuk menjelaskan tentang visi dan misi Muhammadiyah kepada seluruh orang tua/wali murid yang hadir sehubungan dengan pengelolaan amal usaha Muhammadiyah yang berupa sekolah TK ABA.

Selasa, 13 Januari 2009

Pengajian Bulanan PCM Anggana


Ahad tanggal 14 Muharram 1430 H / 11 Januari 2009 M, telah diselenggarakan Pengajian PC Muhammadiyah Anggana yang bertempat di kediaman Bapak Munawar,S.Pd (Sekretaris PCM Anggana). Narasumber adalah Bapak Drs.H.Suyatman,S.Pd.,M.Si (Ketua PWM Kaltim) dengan materi kajian yaitu "sabar". Pengajian yang dimulai pada pukul 14.15 WITA dan berakhir pada waktu menjelang sholat Ashar.

Minggu, 11 Januari 2009

LOKASI PEMBANGUNAN GEDUNG TK ABA 2 HANDIL TERUSAN


Lokasi pembanguna Gedung TK ABA 2 Handil Terusan

Tempat belajar sementara TK ABA 2 Handil Terusan
Dengan hanya mengharap ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Insya Allah, Pimpinan Cabang Muhammadyah Anggana, akan mendirikan sebuah bangunan Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) 2 di Jalan Poros RT.6 Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Prop.Kalimantan Timur.

Sejak mulai pembelajaran awal tahun ajaran 2008/2009 lalu, proses belajar dilaksanakan di TK/TPA Fatur Rahman, merupakan pinjaman. Oleh karena itu karena PC Muhamamdiyah Anggana sudah membebaskan tanah dengan ukuran 20 m x 50 m, maka awal tahun 2009 ini berusaha untuk memulai pembangunan gedung dimaksud. Untuk itu, kami membuka kesempatan kepada kaum muslimin dimana saja berada, untuk berwakaf jariyah dan atau berinfaq jariyah, demi terwujudnya pembangunan gedung dimaksud. Contact person kepada Ir.Amir Hady HP.08125349437.

Senin, 05 Januari 2009

PCM Anggana selenggarakan rapat kerja tahun 2009



Baru-baru ini, tepatnya hari jum'at tanggal 5 Muharram 1430 h bertepatan dengan tanggal 2 Januari 2009, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Anggana telah menyelenggarakan Rapat Kerja bertempaty di Ruang Masjid Mujahidin Desa Sidomulyo. Acara yang bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan persyarikatan selama tahun 2008 dan menyusun rencana kegiatan tahun 2009. Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan cabang beserta majlis-majlisnya, dan Pimpinan Cabang Aisyiyah, serta pimpinan amal usaha yaitu kepala TK ABA 1 Sidomulyo dan TK ABA 2 Handil Terusan serta Kepala Madrasah Diniyah Muhammadiyah Sidomulyo.

Multi Media di TK ABA 1 Sidomulyo



Dalam rangka peningkatan kualitas, maka TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 1 Sidomulyo, Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartenagara telah memulai pengenalan permainan dengan menggunakan multi media. Sekolah ini dibina langsung oleh Majlis Pendidikan Pimpinan Cabang Aisyiyah Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara dan didirikan pada tahun 2006. Oleh Ibu Irin Mayhartini selaku Kepala Sekolah, berharap dengan fasilitas ini, anak-anak menjadi lebih baik lagi dalam menyerap pendidikan yang diberikan oleh para guru. TK ABA 1 Sidomulyo diasuh oleh tiga orang guru yaitu Ibu Ariyanti, Ibu Mardiana dan Ibu Kariyem Irawati Ary.

Rabu, 31 Desember 2008

PAWAI MUHARRAM 1430 H DI KEC.ANGGANA




Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1430 H, di kecamatan Anggana diselenggarakan Pawai Muharram yang diikuti oleh para pelajar dari murid TK sampai dengan pelajar SMA dan Ibu-ibu majlis taklim. Peserta pawai dilepas oleh Bapak Akh.Taufik Hidayat,S.IP selaku Camat Anggana dengan tempat start di Lapangan MTQ Desa Anggana menuju finish di Desa Sungai Mariam. Kemeriahan begitu terlihat dari banyaknya peserta pawai dan lima regu barisan marching band SD Negeri yang ada di Kecamatan Anggana.

Senin, 29 Desember 2008

SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRAH


MAJLIS TABLIGH DAN DAKWAH KHUSUS PIMPINAN WILAYAH MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRAH, KEPADA KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT DIMANA SAJA BERADA, TERIRING DO'A SEMOGA ALLAH SWT SELALU MEMBERIKAN KEPADA KITA SEMUA KEKUATAN DAN KEMAUAN SERTA KESABARAN UNTUK SENANTIASA BERDAKWAH AMAR MAKRUF NAHY MUNKAR.

Rabu, 17 Desember 2008

PELAKSANAAN ERAU SARAT DENGAN NUANSA SYIRIK


BERITA KORAN SAPOS
Jumat, 12 Desember 2008
Judul : Sepasang Naga Ditempong Tawari
PESTA Erau sekaligus Festival Budaya Kutai Kartanegara (Kukar) 2008 digelar Minggu (14-21) Desember 2008 mendatang. Berbagai persiapan telah dilakukan. Para kerabat Keraton Kesultanan Kutai Kartatanegara Ing Martadipura pun melakukan berbagai ritual adat menjelang Erau. Salah satunya adalah memberi tempong tawar kepada sepasang Naga Erau di lantai dasar Kedaton Kukar, Rabu (10/12), kemarin.

Pemberian tempong tawar Naga itupun dilakukan oleh Dewa (ahli memang/mantra). Dewa membacakan mantra seolah berkomunikasi dengan sepasang Naga terebut lalu memercikkan air tempung tawar ke kepala dan tubuh naga terebut.

"Ini merupakan persiapan bahwa Erau akan dimulai," ujar seorang Kerabat Kedaton, Aji Khairudin yang bertugas mempersiapkan prosesi adat tersebut.

Tempong tawar naga ini seolah-olah untuk memberitahukan kepada Naga bahwa sebentar lagi Erau dimulai. Naga itu nanti akan di gunakan dan diulur. Naga itu akan dipindahkan dari tempat persemayamannya (Kedaton) ke Museum Mulawarman selepas diberi tempong tawar karena akan digunakan saat Erau nanti.

"Naga ini akan dipindahkan ke Museum Mulawarman. Lalu pada hari terakhir Erau akan diulur ke Kutai Lama yang diikuti acara Belimbur (saling siram) menandakan Erau berakhir," katanya. (hmp02)(sapos.co.id)

catatan penulis :
Dalam ajaran Islam, ritual seperti yang diberitakan di atas, jelas merupakan perbuatan yang bernuansa syirik, sebab terjadi sebuah pemujaan terhadap sesuatu selain Allah Subhanahu Wata'ala. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan ritual yang ada dalam pelaksanaan Erau ini seyogyanyalah harusnya bebas dari unsur-unsur syirik. Sebab kalau hal tersebut tetap dilakukan, menurut penulis daerah Kutai Kartanegara ini tidak akan mendapat berkah dari Allah SWT, malah sebaliknya bisa mendatangkan murka dan bencana.

Untuk itu penulis hanya bisa menyampaikan dan berpesan kepada ulama-ulama yang ada di Kutai Kartanegara untuk bisa mengingatkan dan menasehati para pejabat keraton dan pemerintahan akan bahaya syirik ini demi keberkahan Kutai Kartanegara.

Senin, 15 Desember 2008

Sang Pastor dan Rabbi pun Memberikan Selamat


Sejak tiga minggu terakhir ini saya disibukkan oleh berbagai kegiatan berkenaan dengan serangan teroris di kota Mumbai, India. Dari pertemuan dengan media (press conferences) di City Hall, memorialk service di Queen Borough Community College yang dihadiri oleh Walikota, hingga pernyataan bersama para pemimpin agama di Islamic Center pada hari Jum'at dan di Synagogue New York pada hari Sabtunya. Tapi barangkali yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah ketika kami mengadakan pernyataan bersama dengan para pemimpin agama bersamaan dengan shalat Jum'atan, tgl 6 Desember, di Islamic Center New York. Saya katakan berkesan karena acara ini mendapat apresiasi dari kantor walikota, sampai-sampai Walikota Michel Bloomberg sendiri perlu menelpon untuk sekedar berterima kasih.

Akan tetapi, barangkali hal yang paling menjadikannya berkesan adalah kenyataan bahwa di saat kehadiran para pemimpin agama lain di Islamic Center itu, ada dua orang Amerika yang juga menyatakan keputusannya untuk memeluk agama Islam. Jordan dan Lynn, pada siang itu rupanya diam-diam hadir mendengarkan khutbah Jum'at yang sempat diliput oleh berbagai media massa itu, setelah selesai shalat meminta kepada security personal untuk menghubungi Imam karena ingin masuk Islam. Tentu, rencana untuk memberikan 'pernyataan' bersama itu tertunda sejenak. Jordan dan Lynn rupanya tidak punya hubungan dan tidak saling mengenal. Mereka berdua hanya secara kebetulan bersamaan untuk 'iseng-iseng' hadir mendengarkan khutbah Imam yang menurutnya ingin memastikan kalau Imam ini berani mengutuk serangan terorisme di Mumbai. Maklum, masih banyak yang meragukan hal ini.

Kehadiran Jordan dan Lynn justeru dari sebuah press release yang dikeluarkan oleh Foundation of Ethnic Understanding, pimpinan Rabbi March Scheneir, salah seorang Rabbi paling berpengaruh di AS. Dialah yang mengundang media massa untuk hadir di islamic Center mendengarkan khutbah dan sekaligus pernyataan bersama para pemimpin agama dalam menyikapi serangan teroris Mumbai.

Jordan adalah pria keturunan campuran Afrikan dan Irish. Sementara Lynn adalah gadis Amerika putih berasal dari Connecticutt. "Hello!" sapa saya ketika mereka berdua mendekat ke mihrab tempat saya berdiri. "Hi!" jawabnya serempak.

Oleh karena waktu tidak memungkinkan, saya tidak banyak bertanya kepada kedua hamba Allah ini. Saya hanya dengan sangat singkat menjelaskan tentang hakikat menjadi seorang Muslim. "Islam adalah agama yang didasarkan kepada keyakinan dan karya" (faith and action), kata saya. Karenanya untuk anda berdua menjadi Muslim, anda harus betul-betul yakin bahwa inilah jalan yang benar dan inilah jalan keselamatan bagi anda, dunia dan akhirat. Saya kemudian menjelaskan secara singkat kewajiban-kewajiban dasar bagi seorang Muslim.

Rupanya, keduanya telah lama mempelajari islam. Jordan adalah pegawai sebuah perusahaan dan kebetulan bersahabat dengan seorang Muslim dari Timur Tengah. Dialah yang banyak mengambil andil dalam proses belajar Islam sejak setahun lebih. Sementara Lynn adalah mahasiswi di Fordam University dan telah banyak mengukuti berbagai materi Islam, termasuk Shari'ah and International Law, yang justeru diajarkan oleh seorang professor beragama Kristen.

Namun demikian, untuk lebih memantapkan keduanya dan juga secara tidak langsung menyampaikan kepada tokoh-tokoh agama yang hadir pada siang itu, saya menanyakan kepada Jordan dan Lynn, "are you really certain of your decision?". Bahkan secara bercanda saya katakan "I never force you to do this!". Keduanya tersenyum dan serempak mengannguk.

Maka, dengan izin dan inayah Allah SWT, saya bimbing keduanya berikrar: " Laa ilaah illa Allah-Muhammad Rasul Allah". Nampak Lynn menetsskan airmata, sementara Jordan dengan sangat khusyuk mengikuti setiap kata dari syahadah.

Banyak hadirin yang ingin melompat mengucapkan selamat. Tapi saya meminta agar semua duduk di tempat masing-masing karena kita akan menyampaikan pernyataan bersama mengutuk serangan teroris di Mumbai. Tapi rupanya, Pendeta dan Rabbi yang hadir di hadapan keduanya mengucapkan syahadah terlebih dahulu mengulurkan tangan untuk menyampaikan selamat kepada mereka berdua. Saya hanya tersenyum, sedikit bangga, tapi juga agak risau memikirkan, apa gerangan di benak mereka menyaksikan Jordan dan Lynn masuk Islam?

Hanya Allah yang tahu. Selamat Jordan, selamat Lynn! Semoga anda berdua selalu dijaga di jalanNya.

Oleh Syamsi Ali, New York, 14 Desember 2008

Sandrina Malakiano Fatah Story


Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di
belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya
sendiri yakin bahwa ? sebagaimana Islam mengajarkan ? di balik
kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh
jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai
hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu
saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya
bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan
untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah
mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah
berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang
mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di
tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya
berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang
dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa
pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang
tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta,
akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses
negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh
penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi
Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada
sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.
Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya
buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan
presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah
menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar,
ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI
Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan
pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang
terbaik dan bahwa "dunia tak selebar daun Metro TV', saya bergeming
dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan
mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu
saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah
sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro
TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di
rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.
Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat
inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di
ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya
mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik.
Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak
keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri
memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host
dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para
profesor di acara "Ensiklopedi Al Quran" selama Ramadhan tahun lalu,
misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman
baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif,
dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu
Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia,
mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap
kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan
mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan,
bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang
kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih
kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada
akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan
personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian
seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena
sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari
siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa
tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut
puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku
dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro
TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ?
seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai
sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ? di sebuah lembaga
nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang
dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan
saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan
sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan
Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu
komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, "Kamu
tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar."

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara
diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu
pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di
tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang
dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana
mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan
berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga
semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh
hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan
kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung
meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme ?
mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya ? ternyata bisa
bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.
(Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah,-M.Iqbal Dian Kurniawan)

Sabtu, 13 Desember 2008

PCM ANGGANA SEMBELIH 2 EKOR SAPI

PC Muhammadiyah Kec.Anggana pada lebaran haji tahun 1429 ini telah menyembelih dua ekor sapi, satu ekor dari PW Aisyiyah Kalimantan Timur dan satu ekor dari jamaah warga Muhammadiyah ranting Desa Sidomulyo. Pelaksanaan pemotongan langsung setelah diselenggarakan sholat ied dan dibagikan kepada warga dan jamaah yang ada di di Desa Sidomulyo, Desa Anggana dan Desa Sungai Mariam. Disamping itu PCM Anggana juga mendapat kiriman paket daging kurban dari PD Muhammadiyah Kutai Kartanegara sebanyak 35 paket. Sementara itu khobah Ied disampaikan oleh Ustadz Ir.Masyumi, anggota Majlis Pendidikan Kader PW Muhammadiyah Kalimantan Timur.

Sholat Idul Adha 1429 di Kuala Kapuas



Di Kuala Kapuas penyelenggaraan shalat Ied pada umumnya dilakukan di masjid-masjid, sebab secara mayoritas umat Islam yang ada di Kuala Kapuas adalah masyarakat yang berasal dari Kalimantan Selatan yang memang secara kultural bermazhab Imam Syafi’I yang menyatakan bahwa shalat Ied lebih afdol diselenggarakan di masjid. Namun ternyata ada juga sebagian umat Islam yang menyelenggarakan shalat Ied di lapangan terbuka, yaitu yang dikoordinir oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuala Kapuas, tepatnya di komplek stadion Kuala Kapuas, tepatnya di Lapangan Tenis. Dan ini merupakan satu-satunya shalat Ied yang diselenggarakan di lapangan di Kuala Kapuas. Muhammadiyah berkeyakinan dan berusaha semaksimal mungkin dalam beribadah mencontoh dan mendekati seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam khotbahnya yang berjudul Meraih Kemulian dengan Taat kepada Allah, khatib Ustadz H.Ahmad Hadi Abwa, menyampaikan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah tokoh sentral yang selalu dikenang di setiap Idul Adha, dan bahwa memang patut untuk diteladani karena pengorbanannya yang luar biasa dalam ketaatan dan ketundukannya kepada Allah SWT, yang berwujud pada ketaatan agung yang tidak tertandingi, semua itu tampak mulai dari proses perjalanan kehidupannya, bagaimana sang nabiullah mempertahankan aqidatuttauhid di lingkungan para penyembah berhala sampai pada keikhlasan mengorbankan putra tersayang dalam peristiwa penyembelihan yang berakhir dengan syariat ibadah kurban hingga saat ini. Disamping sebagai Rasulullah yang sempurna, Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan kemanusiaanya juga berhasil mendidik istri dan anak keturunan dalam ketaatan di atas jalan Allah.
Diakhir khotbanya, khotib yang juga direktur Ma’had Nurul Amin Muhammadiyah Alabio Kalimantan Selatan ini mengingatkan sebuah hadits Nabi SAW yaitu “kalian akan berlomba-lomba (untuk mendapatkan harta), kemudian kalian akan saling hasad, kemudian kalian akan saling membelakangi (tidak mau lagi saling bertemu, tidak lagi saling nasehat-menasehati), dan akhirnya kalian akan saling membenci” (HR.Muslim).

Demikian, sedikit cerita tentang sholat Ied di Kuala Kapuas, sebuah kota di Kalimantan Tengah.