Pawai Ramadhan dalam rangka menyambut bulan puasa di Desa Sungai Mariam Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sabtu, 30 Agustus 2008
PAWAI MENYAMBUT RAMADHAN 1429 H
Pawai Ramadhan dalam rangka menyambut bulan puasa di Desa Sungai Mariam Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kamis, 21 Agustus 2008
Jumat, 15 Agustus 2008
PC AISYIYAH ANGGANA DIRIKAN TK ABA 2 HANDIL TERUSAN
PC MUHAMMADIYAH ANGGANA MEMBANGUN MADRASAH DINIYAH
Senin, 04 Agustus 2008
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan Bertepatan dengan 1 September 2008

Yogyakarta –Pimpinan Pusat Muhammadiyah sesuai hisab hakiki wujudul hilal, menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan hari senin, tanggal 1 September 2008 melalui Maklumat Nomor : 04/MLM/I.0/E/2008 tertanggal 26 Juli 2008. Maklumat yang juga menyebutkan penetapan Hari Raya Idul Fitri dan awal bulan Dhulhijjah tersebut disertai juga Tausiyah menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Menurut lampiran Maklumat yang merupakan perhitungan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ijtima’ menjelang Ramadhan 1429 H terjadi pada hari ahad legi, 31 Agustus 2008 pukul 02:59:48 WIB. Tinggi Hilal pada saat terbenam matahari di Yogyakarta plus 5 derajat, 27 menit, 57 detik, hilal sudah wujud, dan diseluruh Indonesia pada saat matahari terbenam hilal diatas ufuk.
Adapun Idul Fitri 1429 H ditetapkan jatuh pada hari Rabu Pahing 1 Oktober 2008 M. Sedangkan tanggal 1 Dzulhijjah 1429 H jatuh pada hari Sabtu Legi 29 November 2008 M, sehingga Hari Arafah (9 Dzulhijjah 1429 H) jatuh pada hari Ahad Wage 7 Desember 2008 M, dan Hari Raya ’Idul Adha (10 Dzulhijjah 1429 H) jatuh pada hari Senin Kliwon 8 Desember 2008 M.
Berkaitan dengan kehadiran bulan Ramadhan 1429 H tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan Tausiyah Ramadhan sebagai berikut:
1. Mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah puasa (shaum) Ramadhan maupun rangkaian ibadah-ibadah yang dituntunkan Rasulullah lainnya dengan ikhlas, khusyu’, istiqamah dan kesungguhan semata-mata untuk meraih ridha dan karunia Allah SWT, sehingga dapat terpantul dalam jiwa, sikap dan tingkah laku sehari-hari yang mencerminkan kepribadian muttaqin dalam esensi yang sesungguhnya, sehingga setiap pribadi muslim benar-benar shalih secara individual dan shalih secara sosial, yang menunjukkan konsistensi kepribadian yang utuh dan kokoh. Jika setiap muslim baik perorangan maupun kolektif benar-benar berkepribadian muttaqin yang utuh dan kokoh, maka selain memiliki benteng ruhani dan moral yang kuat dalam menjalankan kebaikan (amar ma’ruf) serta mencegah keburukan (nahi munkar) pada saat yang sama akan menjadi kekuatan besar dalam ikhtiar membangun karakter bangsa di negeri ini.
2. Mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk menjadikan dan mengutamakan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) atas segala kesalahan dan dosa-dosa dengan jalan memohon maghfirah (ampunan), berkah, dan rahmat Allah SWT disertai dengan kesungguhan bertaqarrub dan beribadah kepada-Nya serta berbuat ihsan kepada sesama manusia melalui berbagai kegiatan ibadah di bulan suci yang penuh kemuliaan tersebut.
3. Menghimbau kepada warga Muhammadiyah untuk mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan ibadah dan aktifitas organisasi secara intensif dan sinergis sesuai ketentuan yang telah digariskan oleh agama dan Persyarikatan, seperti menggairahkan shalat berjama’ah dan melakukan pembinaan umat melalui masjid-masjid dan majelis ta’lim, ibadah shalat lail/tarawih, i’tikaf, bersilaturahim dengan kerabat dan tetangga dekat maupun jauh serta sesama komponen bangsa lainnya, menjaga ukhuwah dan persaudaraan sesama umat Islam, menolong sesama, membantu kaum dhu’afa dan mustadh’afin, berinfaq, beramal jariyah, bershadaqah dan menunaikan zakat, pengajian hari besar Islam seperti Nuzulul Qur’an, serta kegiatan-kegiatan utama yang membawa kepada keselamatan, kebahagiaan dan kemaslahatan hidup diri sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia kemanusiaan dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin.
4. Mengajak kepada segenap warga Muhammadiyah dan umat Islam untuk menjadikan Ramadhan dan ’Idul Fitri sebagai proses pembaruan diri menuju kedewasaan dan kematangan dalam ber-Islam. Fenomena konflik internal di kalangan umat Islam akhir-akhir ini yang tak jarang berujung pada tindak kekerasan baik secara fisik maupun non-fisik semakin menjelaskan pentingnya menumbuhkan sikap tawadhu, tabayyun, tasamuh, ukhuwah, dan dialog secara intensif. Oleh karena itu pula diharapkan agar seluruh pimpinan umat Islam untuk semakin merapatkan barisan dan giat melakukan konsolidasi dan pembinaan terhadap umat, terutama agar dalam mereaksi konflik tersebut tetap menggunakan pendekatan akhlaqul karimah dan mengindahkan tata aturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia.
5. Meminta kepada Pimpinan Persyarikatan di masing-masing tingkatan untuk menyelenggarakan pengajian Ramadhan bagi anggota pimpinan, ortom, dan amal usaha, sebagai sarana peningkatan kualitas dan pelaksanaan misi Muhammadiyah.
6. Mengajak kepada semua pihak, lebih-lebih industri hiburan baik media maupun pranata publik lainnya, agar menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kebaikan, serta tidak menjual komoditi pornografi dan pornoaksi yang merusak akhlak dan tatanan bangsa demi meraih keuntungan materi. Sikap positif yang demikian diperlukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kehadiran bulan suci Ramadhan sekaligus bentuk pertanggungjawaban terhadap masa depan kehidupan negara. Jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk menghentikan tayangan-tayangan yang merusak akhlaq dan peradaban bangsa.
7. Menghimbau kepada segenap tokoh masyarakat, politisi, pejabat publik, pengusaha, dan semua elemen di tubuh pemerintahan dan masyarakat, dengan ruh atau pesan terdalam puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan lainnya marilah kita jauhi korupsi, kebohongan publik, menindas dan merugikan sesama, menyia-nyiakan/menghianati amanat dan tanggungjawab, membiarkan kemunkaran atau bahkan melakukan kemunkaran, dan tindakan-tindakan penyimpangan serta demoralisasi lainnya dalam kehidupan pribadi dan ruang publik. Mari kita kembangkan perilaku-perilaku dan tindakan-tindakan yang otentik (fitri) sebagai cermin dari kepribadian orang-orang bertaqwa dalam kehidupan sehari-hari seperti kejujuran, kesahajaan, ketulusan, kedermawanan, kebajikan, bersikap adil, pemaaf, rendah hati, suka membela sesama dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan kepribadian yang kokoh sehingga membawa kemaslahatan bagi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang banyak.
Demikian tausiyah Ramadhan ini disampaikan untuk dilaksanakan dan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah menyambut bulan suci Ramadhan 1429 H. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Amien ya Rabbal ‘Alamin.
(Arif Nur Kholis. www.muhammadiyah.or.id)
Minggu, 03 Agustus 2008
Antara Al-quran Dan Sang Jendral Adolf Roberto

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ
terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
terkenal bengis,tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo
penjara' itu berlalu dihadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu
'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di
wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
" Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto
sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.
Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja
bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara
itu menghampiri kamar tahanan yang lasnya tak lebih sekadar cukup untuk
satu orang.
Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang
keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut
wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang
menyala.
Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata
Rabbi, waana'abduka...
Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil
berkata,
" Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga ."
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz olehsesama tahanan,
'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan
pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu
keras-keras hingga terjerembab di lantai.
" Hai orangtua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu
itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah
orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan
bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan
'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini."
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta
maaf dan masuk agama kami."
Mendengar"khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala,menatap Roberto
dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap,
" Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat
menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada
dipuncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya,patutkah aku berlutut
kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku
termasuk manusia yang amat bodoh."
Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat
diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung.Kemudian jatuh terkapar di lantai
penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju
penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'.
Adolf Roberto bermaksud memungutnya
Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan
menggenggamnya erat-erat.
"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.
"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh
barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.
Tak ada jalan lain,akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk
mendapatkan buku itu.
Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak
jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang
yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi
Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak
tulang yang terputus.
Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat
tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah
lusuh. Mendadak algojo itu termenung.
" Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku
pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh
tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan " aneh"
dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.
Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda
tanya yang dalam.Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras
mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.Perlahan,
sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu
teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan
besar dinegeri tempat kelahirannya ini.
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan dilapangan Inkuisisi
(lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu
tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa
berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan,beberapa puluh
wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang
tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang,
membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup
pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang
dibawa oleh para rahib.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu
masih berdiri tegak dilapangan Inkuisisi yang telah senyap.
korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu
mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang
gantungan.
Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah
bernyawa, sembari menggayutinya.Sang bocah berkata dengan suara parau,
" Ummi, ummi,mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah
berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....?
Ummi, cepat pulang kerumah ummi..."
Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua
menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat
apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah
ituberteriak memanggil bapaknya
" Abi...Abi...Abi..."
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat
kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
" Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati
sang bocah.
" Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon
belas kasih.
" Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!"bentak salah seorang dari
mereka.
" Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.
" Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ' Adolf
Roberto ' .. Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau
kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki
itu.
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak
laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya
keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama
mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Sang Jendral itu melompat
ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat
pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu.
Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,
" Abi...Abi...Abi..."
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya
terus bergelut dengan masa lalunya.Ia masih ingat betul, bahwa buku
kecil yang ada didalam genggamannya adalah Kitab Suci Al Qur'an milik
bapaknya,yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak
menidurkannya.
Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.
Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan
lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama
ini.Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu
dengan spontan menyebut,
" Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..."
Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang
membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat
seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
" Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku
pada jalan itu..."
Terdengar suara Jendral Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur
nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Airmatanya pun
turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian,
ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini.
Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran ALlah.
Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap :
" Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan
saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail
Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"
Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan
berbekal kalimah indah
"Asyahaduanla Illaaha ilallah, wa asyahadu anna MuhammadRasullullah...'.
Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian
lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya
dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa
muda sempat disandangnya.
Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... Al-Ustadz
Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah...
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut arahnya itu. Tidak
ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS>30:30)(Iip Syaiful Rahman
Selasa, 22 Juli 2008
Seharusnya Kerahmatan Menjadi Ukuran Ke- Islaman Gerakan
Arif Nur Kholis (www.muhammadiyah.or.id)
Yogyakarta- Dr. Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyatakan bahwa saat ini perlu dikembangkan pemahaman bahwa seharusnya tingkat kerahmatan dan kemanfaatan sebuah gerakan atau organisasi Islam yang menjadi ukuran ke-Islaman gerakan Islam tersebut, karena menurutnya, adalah sebuah keanehan bila khalayak mengganggap derajat kesalehan seorang pengebom yang membunuh banyak orang sama dengan dengan mereka yang bekerja untuk kemanfaatan masyarakat. Menurut Hamim yang juga pengajar UIN Sunan Kalijaga dalam Seminar Nasional Pemeranan Majelis Taklim/ Pengajian dalam Menanamkan nilai-nilai multikulturalisme 12 Juli 2008 di gedung Muhammadiyah Cik ditiro tersebut, sayangnya hingga saat ini tidak banyak yang mengeksplorasi konsep wamaa arsalnaka illa rahmatan lil alamin sebagai parameter ke-Islaman sebuah gerakan. Menurut Hamim, dengan menjadi menjadi rahmat sebesar besarnya kepada alam, berarti Islam mengakui nilai-nilia Multikultural dalam ajarannya.
Hamim lebih lanjut menyatakan dalam Seminar yang diselenggarakan PP Aisyiyah dan DEPAG RI tersebut, bahwa saat ini kesadaran multikultural tidak seharusnya berhenti pada pengakuan adanya perbedaan semata, namun sudah harus menjadi sebuah kesadaran yang saling memberdayakan diantara perbedaan tersebut. Menurutnya, Muhammadiyah dalam ranah praksis sudah memasuki kesadaran tersebut, terbukti dengan fenomena Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia Timur yang sebagian besar mahasiswanya dari kalangan non- Muslim. Artinya, Muhammadiyah tidak sekedar mengakui adanya perbedaan, namun juga memberi kesempatan kepada mereka yang non-Muslim untuk berkembang dalam hidupnya melalui pendidikan. Kemauan untuk memberi kesempatan mendapat pendidikan kepada orang non Muslim inilah yang bisa disebut sebagai wujud kerahmatan Muhammadiyah kepada mereka yang berbeda agama.
Hamim menyatakan bahwa pada masa kolonial, konsep Multikultural ini berhenti pada pengakuan adanya perbedaan semata. Setelah kemerdekaan Indonesia, kesadaran multikultural sudah berkembang hingga dimasa orde lama. Namun sayang, menurutnya setelah berdirinya orde baru, kesadaran multikultural ini berubah menjadi sekedar toleransi dimana berhenti pada sekedar mengakui dan menghormati perbedaan semata, sehingga kesadaran untuk saling memberdayakan sangat kurang.
Dalam kesempatan tersebut Hamim juga menyitir Ayat 148 Al Qur’an dari Surat Al Baqoroh yang telah menjadi trade merk Muhammadiyah yaitu fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Dari ayat tersebut menurut Hamim, kesadaran multikultural bukan merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi Muhammadiyah, karena di ayat tersebut dinyatakan bahwa masing-masing komunitas memiliki orientasi budaya yang dituju dan dalam meresponnya umat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. (arif).
Yogyakarta- Dr. Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyatakan bahwa saat ini perlu dikembangkan pemahaman bahwa seharusnya tingkat kerahmatan dan kemanfaatan sebuah gerakan atau organisasi Islam yang menjadi ukuran ke-Islaman gerakan Islam tersebut, karena menurutnya, adalah sebuah keanehan bila khalayak mengganggap derajat kesalehan seorang pengebom yang membunuh banyak orang sama dengan dengan mereka yang bekerja untuk kemanfaatan masyarakat. Menurut Hamim yang juga pengajar UIN Sunan Kalijaga dalam Seminar Nasional Pemeranan Majelis Taklim/ Pengajian dalam Menanamkan nilai-nilai multikulturalisme 12 Juli 2008 di gedung Muhammadiyah Cik ditiro tersebut, sayangnya hingga saat ini tidak banyak yang mengeksplorasi konsep wamaa arsalnaka illa rahmatan lil alamin sebagai parameter ke-Islaman sebuah gerakan. Menurut Hamim, dengan menjadi menjadi rahmat sebesar besarnya kepada alam, berarti Islam mengakui nilai-nilia Multikultural dalam ajarannya.
Hamim lebih lanjut menyatakan dalam Seminar yang diselenggarakan PP Aisyiyah dan DEPAG RI tersebut, bahwa saat ini kesadaran multikultural tidak seharusnya berhenti pada pengakuan adanya perbedaan semata, namun sudah harus menjadi sebuah kesadaran yang saling memberdayakan diantara perbedaan tersebut. Menurutnya, Muhammadiyah dalam ranah praksis sudah memasuki kesadaran tersebut, terbukti dengan fenomena Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia Timur yang sebagian besar mahasiswanya dari kalangan non- Muslim. Artinya, Muhammadiyah tidak sekedar mengakui adanya perbedaan, namun juga memberi kesempatan kepada mereka yang non-Muslim untuk berkembang dalam hidupnya melalui pendidikan. Kemauan untuk memberi kesempatan mendapat pendidikan kepada orang non Muslim inilah yang bisa disebut sebagai wujud kerahmatan Muhammadiyah kepada mereka yang berbeda agama.
Hamim menyatakan bahwa pada masa kolonial, konsep Multikultural ini berhenti pada pengakuan adanya perbedaan semata. Setelah kemerdekaan Indonesia, kesadaran multikultural sudah berkembang hingga dimasa orde lama. Namun sayang, menurutnya setelah berdirinya orde baru, kesadaran multikultural ini berubah menjadi sekedar toleransi dimana berhenti pada sekedar mengakui dan menghormati perbedaan semata, sehingga kesadaran untuk saling memberdayakan sangat kurang.
Dalam kesempatan tersebut Hamim juga menyitir Ayat 148 Al Qur’an dari Surat Al Baqoroh yang telah menjadi trade merk Muhammadiyah yaitu fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Dari ayat tersebut menurut Hamim, kesadaran multikultural bukan merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi Muhammadiyah, karena di ayat tersebut dinyatakan bahwa masing-masing komunitas memiliki orientasi budaya yang dituju dan dalam meresponnya umat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. (arif).
Jumat, 04 Juli 2008
ayam dan babi
Ada orang asing (ilmuwan) bertanya kepada seorang Ulama mengenai hewan babi ini.
Ilmuwan : Haramnya hewan babi bagi umat muslim adalah disebabkan karena
banyaknya parasit dan kotoran dalam hewan ini. Dengan semakin canggihnya
ilmu kedokteran, bukannya mungkin nantinya hewan babi dapat dibersihkan
dari virus dan parasit yang mematikan ini? Apakah nantinya hewan babi yang
bersih akan menjadi halal?
Ulama : Haramnya babi bukan karena hal itu saja. Tetapi ada sifat
Babi yang sangat diharamkan untuk umat Islam?
Ilmuwan : Apakah itu?
Ulama : Coba anda buat 2 (dua) kandang. Dimana 1 (satu) kandang isi
dengan 2 (dua) ekor ayam jantan dan 1 (satu) ekor ayam betina.
1 (satu) kandang lagi isi dengan 2 (dua) ekor babi
jantan dan 1 (satu) ekor babi betina.
Apakah yang terjadi pada masing2 kandang tersebut?
Bisakah anda menerkanya!!!
Ilmuwan : Tidak bisa!!!!????
Ulama : Mari kita lihat bersama-sama sekarang.
Pada kandang pertama dimana ada 2 (dua) ekor ayam jantan
dan 1 (satu) ekor ayam betina, yang terjadi adalah 2 (dua) ekor ayam
jantan tersebut berkelahi dahulu untuk memperebutkan 1 (satu) ekor ayam
betina tersebut sampai ada yang menang dan kalah. Dan itu sesuai dengan
Kodrat dan Fitrah manusia diciptakan Allah SWT.
Ilmuwan : Pada kandang Babi?
Ulama : Ini yang menarik. Pada kandang kedua, yaitu kandang berisi 2
(dua) ekor babi jantan dan 1 (satu) ekor babi betina. Ternyata 2 (dua)
ekor babi jantan tidak berkelahi untuk memperebutkan 1 (satu) ekor babi
betina, tetapi yang terjadi adalah 2 (dua) ekor babi jantan tersebut
malahan menyetubuhi secara beramai-ramai 1 (satu) ekor babi betina
tersebut dan juga terjadi hubungan Homoseksual antara kedua ekor babi
jantan setelah selesai dengan si betina. Hal inilah yang jelas2
bertentangan dengan Fitrah umat manusia.
Bilamana umat Islam ikut2an memakan babi maka ditakutkan
umat Islam akan mempunyai sifat dan karateristik seperti babi ini.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma'in, Wallahu A'lam
Bish-shawab.
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat
kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk
berhala.
Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib
dengan anak panah itu) adalah Kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir
telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu
takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari telah Ku-sempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhlai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyanyang". ( QS. Al-Maidah (5) : 3).
Mengapa Islam mengharamkan Babi (Terjemahan)
Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam,
diulas dari sudut pandang Logika dan Ilmu Kesehatan.
Bob : Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat
mementingkan mengenai kata-kata "Halal" dan "Haram"; apa arti dari
kata-kata tersebut?
Yunus : Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan
apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur'an
lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.
Bob : Dapatkah anda membrikan contoh?
Yunus : Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan
sependapat bahwa analis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang
tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa
berbahaya bagi kesehatan manusia.
Bob : Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid dalam
tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam
kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh,
dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui
air seni.
Yunus : Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur
khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.
Bob : Apa maksud anda?
Yunus : Begini... seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari
Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari
membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.
Bob : Oh begitu... Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena
kehabisan darah dalam tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.
Yunus : Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau
otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan
menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut
mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga
menjadikannya beracun; hannya pada masa kini-lah, para ahli makanan baru
menyadari akan hal ini.
Bob : Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa
para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan
lainnya yang terkait dengan babi?
Yunus : Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur'an dalam
pengkosumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada
Levitus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, "Dari daging mereka
(dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian makan, dan dari
bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu".
Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di
leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi
alamiahnya?
Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi
konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan
memiliki leher.
Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek
berbahaya dari konsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops,
ham, atau bacon.
Bob : Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas
banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam
parasit dan penyakit berbahaya.
Yunus : Ya. Dan diluar sana itu semua, sebagaimana kita membicarakan
mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk
diperhatikan bahwa sitem biochemistry : babi hannya mengeluarkan 2% dari
seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam
tubuhnya.
Ini dapat menjawab sebagian pertanyaan mereka, khusunya jika kalangan
Non-Muslim bertanya mengapa Umat Islam tidak boleh mengkonsumsi babi.(m.edison@yahoo.com/syiar-islam@yahoogroups.com)
Ilmuwan : Haramnya hewan babi bagi umat muslim adalah disebabkan karena
banyaknya parasit dan kotoran dalam hewan ini. Dengan semakin canggihnya
ilmu kedokteran, bukannya mungkin nantinya hewan babi dapat dibersihkan
dari virus dan parasit yang mematikan ini? Apakah nantinya hewan babi yang
bersih akan menjadi halal?
Ulama : Haramnya babi bukan karena hal itu saja. Tetapi ada sifat
Babi yang sangat diharamkan untuk umat Islam?
Ilmuwan : Apakah itu?
Ulama : Coba anda buat 2 (dua) kandang. Dimana 1 (satu) kandang isi
dengan 2 (dua) ekor ayam jantan dan 1 (satu) ekor ayam betina.
1 (satu) kandang lagi isi dengan 2 (dua) ekor babi
jantan dan 1 (satu) ekor babi betina.
Apakah yang terjadi pada masing2 kandang tersebut?
Bisakah anda menerkanya!!!
Ilmuwan : Tidak bisa!!!!????
Ulama : Mari kita lihat bersama-sama sekarang.
Pada kandang pertama dimana ada 2 (dua) ekor ayam jantan
dan 1 (satu) ekor ayam betina, yang terjadi adalah 2 (dua) ekor ayam
jantan tersebut berkelahi dahulu untuk memperebutkan 1 (satu) ekor ayam
betina tersebut sampai ada yang menang dan kalah. Dan itu sesuai dengan
Kodrat dan Fitrah manusia diciptakan Allah SWT.
Ilmuwan : Pada kandang Babi?
Ulama : Ini yang menarik. Pada kandang kedua, yaitu kandang berisi 2
(dua) ekor babi jantan dan 1 (satu) ekor babi betina. Ternyata 2 (dua)
ekor babi jantan tidak berkelahi untuk memperebutkan 1 (satu) ekor babi
betina, tetapi yang terjadi adalah 2 (dua) ekor babi jantan tersebut
malahan menyetubuhi secara beramai-ramai 1 (satu) ekor babi betina
tersebut dan juga terjadi hubungan Homoseksual antara kedua ekor babi
jantan setelah selesai dengan si betina. Hal inilah yang jelas2
bertentangan dengan Fitrah umat manusia.
Bilamana umat Islam ikut2an memakan babi maka ditakutkan
umat Islam akan mempunyai sifat dan karateristik seperti babi ini.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma'in, Wallahu A'lam
Bish-shawab.
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat
kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk
berhala.
Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib
dengan anak panah itu) adalah Kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir
telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu
takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari telah Ku-sempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhlai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyanyang". ( QS. Al-Maidah (5) : 3).
Mengapa Islam mengharamkan Babi (Terjemahan)
Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam,
diulas dari sudut pandang Logika dan Ilmu Kesehatan.
Bob : Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat
mementingkan mengenai kata-kata "Halal" dan "Haram"; apa arti dari
kata-kata tersebut?
Yunus : Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan
apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur'an
lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.
Bob : Dapatkah anda membrikan contoh?
Yunus : Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan
sependapat bahwa analis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang
tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa
berbahaya bagi kesehatan manusia.
Bob : Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid dalam
tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam
kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh,
dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui
air seni.
Yunus : Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur
khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.
Bob : Apa maksud anda?
Yunus : Begini... seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari
Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari
membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.
Bob : Oh begitu... Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena
kehabisan darah dalam tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.
Yunus : Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau
otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan
menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut
mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga
menjadikannya beracun; hannya pada masa kini-lah, para ahli makanan baru
menyadari akan hal ini.
Bob : Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa
para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan
lainnya yang terkait dengan babi?
Yunus : Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur'an dalam
pengkosumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada
Levitus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, "Dari daging mereka
(dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian makan, dan dari
bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu".
Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di
leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi
alamiahnya?
Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi
konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan
memiliki leher.
Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek
berbahaya dari konsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops,
ham, atau bacon.
Bob : Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas
banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam
parasit dan penyakit berbahaya.
Yunus : Ya. Dan diluar sana itu semua, sebagaimana kita membicarakan
mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk
diperhatikan bahwa sitem biochemistry : babi hannya mengeluarkan 2% dari
seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam
tubuhnya.
Ini dapat menjawab sebagian pertanyaan mereka, khusunya jika kalangan
Non-Muslim bertanya mengapa Umat Islam tidak boleh mengkonsumsi babi.(m.edison@yahoo.com/syiar-islam@yahoogroups.com)
Rabu, 25 Juni 2008
Syamsul : Ahli Falak Muhammadiyah Jangan Ketinggalan Kereta

Yogyakarta-Setelah tahun 2007 terselenggara Simposium Internasional tentang Penyatuan Kalender Islam se-Dunia, selasa (24/06/2008) ini ahli Hisab dan Fiqih Muhammadiyah mengkaji perkembangan pembuatan kalender Internasional yang memang hingga saat ini masih belum terwujud. Menurut Prof. Syamsul Anwar, ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam pembukaan acara tersebut, Muhammadiyah sebagai pelopor penggunaan Hisab jangan sampai tertinggal wawasannya tentang perkembangan metode Hisab yang beberapa tahun terakhir berkembang pesat. “Jangan sampai ketinggalan kereta, apalagi kitalah pelopor penggunaan Hisab” tegas Syamsul. “Sebagai gerakan Modernis, kita bisa tidak modern lagi” ingat Syamsul.
Menurut Syamsul di Ruang Sidang Universita Muhammadiyah Yogyakarta tersebut, Dunia Islam mulai Abad 8 hingga abad 13 berkembang pesat pengkajian ilmu falak. Pada masa itu lahir Al Battani yang dikenal pembuat kalender yang kita kenal dengan nama Al Manak, yang sebenarnya merupakan kalender Urfi. Kalender Urfi ini tidak didasarkan pada gerak bulan, namun membagi hari dalam setahun, kemudian membagi jumlah hari pada bulan bulan secara berselang seling, 30 hari dan 29 hari. Kalender ini mengenal tahun Kabisat 11 hari dalam tempo 30 tahun pada bulan Zulqoidah. Namun kalender yang dibelakukan pada abad 10 oleh Al Hakim bin Amrillah, Khalifah Fatimiyah dan Mesir memiliki persoalan dimana bulan Ramadhannya 30 hari terus. “Padahal Rasulullah mengalam sembilan kali Ramadhan, dua kali 30 hari dan tujuh kali 29 hari, sedangkan kalender urfi, selamanya 30 hari” terang Syamsul. “ Inilah awal kalender dalam sejarah Islam, walaupun banyak kwelemahannya”.
Lebih lanjut Syamsul menyatakan bahwa Ilmu Falak itu mati di dunia sejak abad ke-13 sampai abad ke-20, hingga tahun 1910 ilmuan barat kembali membangkitkan pengkajian Ilmu Falak/Astronomi. Tahun 1981 lahir Ilmuan Islam yang ikut mengkaji Ilmu Falak benama Muhammad Ilyas dari Maalaysia, dan mulai saat itu perkembangan sangat cepat. Tahun 1998 menurut Syamsul titik perkembangan ilmu falak di dunia Islam cukup maju dengan didirikan ICOP (Islamic Crescents’ Observation Object) dengan website www.icoproject.org. “Mari ahli falak tarjih dan ahli fiqhnya harus sering membuka situsnya, karena memuat perkembangan ilmu falak umat Islam beberapa tahun terkahir ini, sehingga kita bisa mendapat informasi baru perkembangan Ilmu Falak Syar’i di kalangan Umat Islam beberapa tahun terakhir ini” pesan Syamsul.
Perkembangan Software
Syamsul juga mengingatkan kepada peserta yang terdiri dari utusan wilayah dan undangan-undangan khusus para ahli tersebut, bahwa saat ini teknologi software juga terus berkembang, seperti yang di kembangkan ketua ICOP Muhammad Audah. “Muhammadiyah juga tidak boleh ketinggalan, paling tidak kita mampu mengembangkan software yang praktis yang bisa digunakan untuk menentukan arah kiblat, waktu sholat, menghitung ketinggian bulan, dan matahari” harap Syamsul. “Karena kita harus mencari cara bagaimana kita berfikir ke arah itu” lanjutnya. “karena kalau kita diam terus, orang berkembang terus kita akan ketinggalan” pesan Syamsul lagi. ” Karena itu salah satu upayanya, saat ini Majelis Tarjih bekerjasama dengan UMY, sedang mengembangkan Pusat Studi Falak” terang Syamsul (arif).(www.muhammadiyah.or.id)
Kamis, 19 Juni 2008
Idol dan Berhala
Oleh Eko Prasetyo
Industri televisi di Indonesia sekarang hanya mementingkan selera pasar dan meraup keuntungan besar dari situ tanpa mengindahkan aspek mendidik. Disadari atau tidak, masyarakat kita cenderung dibodohi oleh tontonan di televisi. Yang memprihatinkan, justru acara tersebut diputar di premier time atau pukul 19.00-21.00.
Di waktu-waktu itulah, acara televisi tersebut sering ditonton oleh anak-anak. Kesedihan atau kesialan dieksploitasi untuk menarik simpati penonton. Kita bisa lihat acara-acara reality show remaja yang sama sekali tidak mendidik. Di situ, dipertontonkan bagaimana sepasang muda-mudi pacaran yang bisa bermesra-mesraan di depan umum. Seolah-olah, pacaran itu sudah umum dan sah-sah saja dilakukan. Legitimasi semacam ini sangat memprihatinkan.
Padahal, gaya hidup pacaran itu bisa menghadirkan perbuatan zina yang dilaknat Allah. Yang lebih memprihatinkan, acara valentine tiap tahun dirayakan tidak hanya oleh anak muda, tapi ada pula orang tua dengan ritual memberi bunga ataupun cokelat kepada pasangan. Masya Allah. Sedemikian rupa budaya Barat yang merusak itu telah diadopsi oleh masyarakat awam kita. Bahkan, acara-acara itu menjadi ladang bisnis yang nyata-nyata secara perlahan bisa menghancurkan akhlak seseorang.
Hampir selalu saya perhatikan, di kampung, rumah tetangga, kantor, warung kopi, di mana-mana, acara idol-idol-an makin semarak dengan peminat penonton yang tidak sedikit. Indonesian Idol, misalnya. Ini sangat membuat saya penasaran. Sehingga, saya mencari tahu dari mana asal mula acara yang diadopsi dari American Idol tersebut. Hasilnya?
Saya kaget ternyata kata “idol” itu berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adalah berhala. “Kalau sudah begini, terus piye?” tanya saya di sebuah diskusi pengajian. “Ini jelas pembodohan, ” ujar seorang kawan.
Betapa media sangat berperan dalam membangun stigma kurang mendidik seperti ini. Terutama, acara-acara reality show yang menawarkan menjadi bintang secara instant. Ada satu lagi yang cukup mengusik hati saya. Yakni, acara talent search untuk anak-anak. Gimana tidak? Wong, ada tetangga saya, seorang ibu-ibu, yang saking histerisnya melihat ”idola”nya tereleminasi sampai menangis. Astagfirullah.
Di sini, ada suatu fenomena yang tidak baru, tapi muncul lagi dan masih ampuh memengaruhi penonton. Yakni, air mata. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak di antara finalis talent search di Indonesia (mulai zaman AFI) menjual kisah sedih mereka sebagai bagian dari strategi penjualan yang efektif. Seolah-olah, suara atau kualitas mereka tidaklah cukup untuk dijual kepada masyarakat. Sehingga, semakin tragis kisahnya, semakin menarik untuk dijual. Banyak variasi kisah sedih yang dijual. Mulai keluarga yang miskin sampai harus menjual becak demi ongkos ke Jakarta, bekas korban kerusuhan, keluarga tidak harmonis, single-parent, dan lain-lain. Masya Allah.
Hasilnya? Sukses dan tenar sesaat. Ada jebolan talent search yang bisa bertahan menjaga ketenarannya bukan karena skill yang dimiliki, tapi lebih karena fisikal semata. Ada pula yang terjerat utang hingga jutaan atau puluhan juta hanya untuk mengirimkan SMS demi memenangkan voting. Nah, sekarang kalau anak-anak yang mengikuti talent search itu, secara tidak sadar mereka telah dieksploitasi demi keuntungan program atau media yang menayangkannya.
Haruskah anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya di saat mereka masih harus menikmati masa anak-anaknya? Haruskah budaya Barat yang meracuni masyarakat semacam itu hanya kita biarkan? Karena itu, pendidikan agama begitu penting berperan di sini. Fondasi Islam harus ditanamkan kepada generasi muda, terutama sejak dini.
Rasulullah bersabda, ”Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika sampai berusia sepuluh tahun mereka tetap enggan mengerjakan shalat.” (HR Abu dawud dan al-Hakim). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan lewat Ibnu Abbas ra,
Rasulullah juga bersabda, “Taatlah kepada Allah dan takutlah berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Sebab, hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari siksa neraka.” Jelas sudah lewat hadis di atas bahwa pendidikan akhlak dan agama harus dberikan kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya, agar anak-anak kita, generasi Islami mendatang, tidak mudah terjerumus terhadap hal atau acara yang tidak mendidik. Indonesia, please be objective and never fall into the same trap again. prasetyo_pirates@yahoo.co.id (eramuslim.com)
Industri televisi di Indonesia sekarang hanya mementingkan selera pasar dan meraup keuntungan besar dari situ tanpa mengindahkan aspek mendidik. Disadari atau tidak, masyarakat kita cenderung dibodohi oleh tontonan di televisi. Yang memprihatinkan, justru acara tersebut diputar di premier time atau pukul 19.00-21.00.
Di waktu-waktu itulah, acara televisi tersebut sering ditonton oleh anak-anak. Kesedihan atau kesialan dieksploitasi untuk menarik simpati penonton. Kita bisa lihat acara-acara reality show remaja yang sama sekali tidak mendidik. Di situ, dipertontonkan bagaimana sepasang muda-mudi pacaran yang bisa bermesra-mesraan di depan umum. Seolah-olah, pacaran itu sudah umum dan sah-sah saja dilakukan. Legitimasi semacam ini sangat memprihatinkan.
Padahal, gaya hidup pacaran itu bisa menghadirkan perbuatan zina yang dilaknat Allah. Yang lebih memprihatinkan, acara valentine tiap tahun dirayakan tidak hanya oleh anak muda, tapi ada pula orang tua dengan ritual memberi bunga ataupun cokelat kepada pasangan. Masya Allah. Sedemikian rupa budaya Barat yang merusak itu telah diadopsi oleh masyarakat awam kita. Bahkan, acara-acara itu menjadi ladang bisnis yang nyata-nyata secara perlahan bisa menghancurkan akhlak seseorang.
Hampir selalu saya perhatikan, di kampung, rumah tetangga, kantor, warung kopi, di mana-mana, acara idol-idol-an makin semarak dengan peminat penonton yang tidak sedikit. Indonesian Idol, misalnya. Ini sangat membuat saya penasaran. Sehingga, saya mencari tahu dari mana asal mula acara yang diadopsi dari American Idol tersebut. Hasilnya?
Saya kaget ternyata kata “idol” itu berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adalah berhala. “Kalau sudah begini, terus piye?” tanya saya di sebuah diskusi pengajian. “Ini jelas pembodohan, ” ujar seorang kawan.
Betapa media sangat berperan dalam membangun stigma kurang mendidik seperti ini. Terutama, acara-acara reality show yang menawarkan menjadi bintang secara instant. Ada satu lagi yang cukup mengusik hati saya. Yakni, acara talent search untuk anak-anak. Gimana tidak? Wong, ada tetangga saya, seorang ibu-ibu, yang saking histerisnya melihat ”idola”nya tereleminasi sampai menangis. Astagfirullah.
Di sini, ada suatu fenomena yang tidak baru, tapi muncul lagi dan masih ampuh memengaruhi penonton. Yakni, air mata. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak di antara finalis talent search di Indonesia (mulai zaman AFI) menjual kisah sedih mereka sebagai bagian dari strategi penjualan yang efektif. Seolah-olah, suara atau kualitas mereka tidaklah cukup untuk dijual kepada masyarakat. Sehingga, semakin tragis kisahnya, semakin menarik untuk dijual. Banyak variasi kisah sedih yang dijual. Mulai keluarga yang miskin sampai harus menjual becak demi ongkos ke Jakarta, bekas korban kerusuhan, keluarga tidak harmonis, single-parent, dan lain-lain. Masya Allah.
Hasilnya? Sukses dan tenar sesaat. Ada jebolan talent search yang bisa bertahan menjaga ketenarannya bukan karena skill yang dimiliki, tapi lebih karena fisikal semata. Ada pula yang terjerat utang hingga jutaan atau puluhan juta hanya untuk mengirimkan SMS demi memenangkan voting. Nah, sekarang kalau anak-anak yang mengikuti talent search itu, secara tidak sadar mereka telah dieksploitasi demi keuntungan program atau media yang menayangkannya.
Haruskah anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya di saat mereka masih harus menikmati masa anak-anaknya? Haruskah budaya Barat yang meracuni masyarakat semacam itu hanya kita biarkan? Karena itu, pendidikan agama begitu penting berperan di sini. Fondasi Islam harus ditanamkan kepada generasi muda, terutama sejak dini.
Rasulullah bersabda, ”Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika sampai berusia sepuluh tahun mereka tetap enggan mengerjakan shalat.” (HR Abu dawud dan al-Hakim). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan lewat Ibnu Abbas ra,
Rasulullah juga bersabda, “Taatlah kepada Allah dan takutlah berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Sebab, hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari siksa neraka.” Jelas sudah lewat hadis di atas bahwa pendidikan akhlak dan agama harus dberikan kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya, agar anak-anak kita, generasi Islami mendatang, tidak mudah terjerumus terhadap hal atau acara yang tidak mendidik. Indonesia, please be objective and never fall into the same trap again. prasetyo_pirates@yahoo.co.id (eramuslim.com)
Islam di Amerika Sebelum Columbus
gaulislam.com Indahnya Islam by Hafsa Mutazz on the June 18th, 2008
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi ‘Yasus bin Maria’ yang dalam bahasa Arab berarti “Yesus, anak Maria”. “Ini bukan frase Kristen,” cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ”Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,” papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
heri ruslan (republika)
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi ‘Yasus bin Maria’ yang dalam bahasa Arab berarti “Yesus, anak Maria”. “Ini bukan frase Kristen,” cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ”Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,” papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
heri ruslan (republika)
Selasa, 10 Juni 2008
Surat Yunus Ayat 99-100

Ahmad Syafii Ma'arif
Arti selengkapnya dari surat Yunus ayat 99 ini adalah: "Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia yang ada di muka bumi. Lantaran itu, patutkah engkau memaksa manusia agar mereka beriman seluruhnya?" Ayat 100 berikutnya: "Dan tidaklah seseorang akan beriman, melainkan dengan izin Allah." Artinya, untuk beriman perlu lampu hijau dari Allah, menurut ayat ini. Tanpa perkenan dari Yang Maha Pemberi Izin, iman itu tidak akan terjadi. Sebab itu, menurut surat Makkiyyah ini, setiap paksaan untuk beriman, halus apalagi kasar, sepenuhnya melanggar ketentuan Allah.
Adapun menyampaikan dakwah agar manusia mau beriman, jelas merupakan kewajiban agama. Tetapi dalam proses dakwah itu, unsur paksaan dilarang keras. Sebenarnya jika mau jujur, di antara metode dakwah yang paling efektif ialah dakwah dengan contoh perbuatan. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di sebuah RT, misalnya, ada dua keluarga Muslim yang jadi buah bibir masyarakat sekitarnya dalam arti positif, padahal lingkungannya mayoritas non-Muslim. Orangnya ramah, sopan, suka memberi siapa saja, tidak terikat dengan agama yang dipeluknya. Penampilannya tidak dibuat-buat, lumrah, semuanya autentik sebagai tanda percaya diri yang tinggi. Jika ada kematian di RT itu, keluarga Muslim itu cepat turun tangan untuk mengulurkan bantuan apa yang mungkin. Dunia fitnah dijauhinya. Menghukum mereka yang seagama tetapi tidak sepaham dalam penafsiran, pantangan baginya. Kenisbian manusia untuk menangkap yang mutlak adalah pegangan utamanya dalam beragama. Seluruh warga RT itu merasa akan sangat kehilangan jika dua keluarga Muslim itu pindah ke tempat lain. Di mana-mana akan terdengar ucapan: "Aduh, mengapa si anu itu pindah dari lingkungan kita, padahal kita sangat memerlukannya agar tetap bersama kita di sini, sekalipun kita berlainan agama."
Contoh yang saya berikan ini bukanlah sesuatu yang asing, semuanya empirik, dapat dilakukan siapa saja, apa pun agama yang dipeluknya. Jika kemudian ada yang tertarik untuk mengikuti agama dua keluarga Muslim itu secara sadar, tanpa ada tanda-tanda paksaan, maka boleh jadi izin Allah untuk beriman itu memang sedang berlaku. Teladan yang ditunjukkan dua keluarga Muslim itu semata-mata sarana bagi keluarnya izin itu. Tidak lebih dari itu.
Saya punya pengalaman khas tentang hal yang mirip, saat saya kuliah dengan Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Mahasiswa yang ikut kuliahnya berasal dari bermacam agama: Katolik, Protestan, Shinto, Yahudi, dan Muslim. Dengan kepercayaan diri yang sangat kuat, Rahman dalam seluruh kuliahnya tidak ada bayangan agar mahasiswanya menjadi Muslim. Mungkin Rahman berpendapat, daripada menambah pengikut, lebih baik jumlah Muslim sedunia di atas satu miliar itu ditingkatkan kualitasnya.
Tetapi, apa yang terjadi? Beberapa mahasiswanya yang non-Muslim saya dengar belakangan telah menjadi Muslim atau Muslimah, sesuatu yang tidak diniatkan Rahman sewaktu memberi kuliah. Metode perkuliahan yang mendalam, objektif, tanpa basa-basi, rupanya telah bersarang secara diam-diam dalam otak dan hati para mahasiswanya. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Izin Allah rupanya berlaku melalui cara-cara yang tak disengaja itu. Tentu saja ruh Rahman di alam baka tersenyum menyaksikan apa yang terjadi pada sejumlah mantan mahasiswanya, sebagian adalah teman-teman sekelas saya. Sebab itu, Anda janganlah terlalu bernafsu untuk 'menaklukkan' dunia agar beriman seperti Anda. Biarlah proses itu berjalan secara wajar. Bukankah kualitas itu jauh lebih penting dari kuantitas, jika kuantitas itu tidak lebih dari beban sejarah?
Dua contoh, RT dan Rahman, mungkin dapat dijadikan bahan renungan: satu untuk akar rumput, yang lain untuk tingkat yang lebih tinggi. Tetapi ingat, Rahman pernah dihalalkan darahnya di Pakistan, tanah airnya, oleh mereka yang wawasan keagamaan dan kemanusiaannya hanyalah sebatas tuturan atapnya, atau paling jauh sebatas halaman rumahnya. Kata pepatah: "Jika kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak diduga!" Mari kita sama-sama belajar dari sumber yang beragam untuk saling bertukar pendapat dengan cara yang santun, jujur, dan mendalam. Musuh terbesar kita adalah kedangkalan dan sifat memonopoli kebenaran (www.muhammadiyah.or.id)
Sabtu, 07 Juni 2008
KH. Cholil: Insiden Monas Cuma Asap Saja
Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas cuma “asap”. Untuk menghilangkannya, maka, apinya harus lebih dahulu dipadamkan
Hidayatullah.com—Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas Ahad, (1/6), lalu cuma “asap”. Untuk menghilangkan asap tersebut, maka apinya harus dipadamkan.
Yang dimaksud “api”, kata KH. Cholil adalah, segala tindak kekerasan terhadap akidah umat Islam serta penodaan terhadap Al-Quran. Bentuk kekerasan yang bersifat psikis ini, menurutnya sangat menyakitkan. Lebih sakit ketimbang serangan pisik yang bisa hilang dalam beberapa waktu.
“Ini sangat menyakitkan. Apalagi kita yang berada di MUI, yang tugaskan untuk mengawal akidah umat Islam di Indonesia,” ujar KH Cholil dalam acara diskusi sekaligus peluncuran Majalah Al-Mujatama’ di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta (6/6), tadi malam.
Untuk memadamkan “api” tersebut diperlukan air, dan “airnya” adalah UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.
Pasal 1 UU ini berbunyi: "Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu.”
Pasal ini telah diterapkan terhadap aliran Al-Qiyadah al-Islamiyah, yang juga mengakui adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasslallaam. Pemimpin alirannya dipenjara, ajarannya dilarang, dan organisasinya dibubarkan. Tapi herannya, kata KH. Cholil, mengapa hal tersebut sulit sekali dilalukan terhadap Ahmadiyah?
Kepada umat Islam, Cholil Ridwan menghimbau untuk berada dalam satu shaf perjuangan, membentuk front perlawanan melawan “kafir”. Kedua, umat Islam juga harus berada dalam satu arah/agenda, yakni tetap membubarkan Ahmadiyah. Ketiga, Cholil juga meminta umat Islam untuk istiqamah dan tidak membuka peluang konflik. Di antaranya dengan tidak melakukan tindakan atau pernyataan yang menyulut emosi. [Surya/cha/www.hidayatullah.com
Hidayatullah.com—Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas Ahad, (1/6), lalu cuma “asap”. Untuk menghilangkan asap tersebut, maka apinya harus dipadamkan.
Yang dimaksud “api”, kata KH. Cholil adalah, segala tindak kekerasan terhadap akidah umat Islam serta penodaan terhadap Al-Quran. Bentuk kekerasan yang bersifat psikis ini, menurutnya sangat menyakitkan. Lebih sakit ketimbang serangan pisik yang bisa hilang dalam beberapa waktu.
“Ini sangat menyakitkan. Apalagi kita yang berada di MUI, yang tugaskan untuk mengawal akidah umat Islam di Indonesia,” ujar KH Cholil dalam acara diskusi sekaligus peluncuran Majalah Al-Mujatama’ di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta (6/6), tadi malam.
Untuk memadamkan “api” tersebut diperlukan air, dan “airnya” adalah UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.
Pasal 1 UU ini berbunyi: "Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu.”
Pasal ini telah diterapkan terhadap aliran Al-Qiyadah al-Islamiyah, yang juga mengakui adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasslallaam. Pemimpin alirannya dipenjara, ajarannya dilarang, dan organisasinya dibubarkan. Tapi herannya, kata KH. Cholil, mengapa hal tersebut sulit sekali dilalukan terhadap Ahmadiyah?
Kepada umat Islam, Cholil Ridwan menghimbau untuk berada dalam satu shaf perjuangan, membentuk front perlawanan melawan “kafir”. Kedua, umat Islam juga harus berada dalam satu arah/agenda, yakni tetap membubarkan Ahmadiyah. Ketiga, Cholil juga meminta umat Islam untuk istiqamah dan tidak membuka peluang konflik. Di antaranya dengan tidak melakukan tindakan atau pernyataan yang menyulut emosi. [Surya/cha/www.hidayatullah.com
FUI Tuding AS Otaki Insiden Monas


Jakarta - Forum Umat Islam (FUI) mencurigai insiden monas didalangi pihak asing. Bahkan AKK-BB dituding telah menerima duit US$ 26 juta dolar sejak 1995 hingga 1997.
Kecurigaan FUI ini didasari kedatangan Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni.
"John Heffern datang membesuk para korban dari AKK-BB. Ini menimbulkan tanda tanya publik. Ada hubungan apa antara orang-orang yg dijenguk tadi dengan kedubes AS," ujar Ketua Gerakan Persaudaran Muslim Indonesia (GPMI) Ahmad Sumargono.
Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers yang digelar FUI di Hotel Sofyan Cikini, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat. Sekadar diketahui, GPMI adalah salah satu organisasi yang tergabung dalam FUI.
Selain itu, Sumargono mengungkapkan, AS telah menerbitkan rilis yang meminta pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan insiden Monas. Penerbitan rilis ini dinilai sebagai bentuk campur tangan AS.
Sumargono juga membeberkan, Adnan Buyung Nasution, yang juga salah satu tokoh AKK-BB, telah menerima duit US$ 26 juta dari AS sejak tahun 1995 hingga 1997. "Melalui YLBHI, Adnan Buyung telah menerima dana dari USAID. Dana ini yang menyebabkan terjadinya gelombang reformasi yang membuat Indonesia amburadul di bawah eksploitasi kaum kapitalis liberal," tuturnya.
Data ini didapat Sumargono berdasarkan tulisan di New York Time. Sumargono mengatakan tulisan New York Time itu diperkuat dari Maruli Tobing dalam harian Kompas, 9 Februari 2001 yang menyebut 'Lewat bantuan itu pula tidak adapula salahnya mencurigai CIA ikut dalam peristiwa yang terjadi 13 hingga 15 Mei 1998 di Jakarta'.
Rencananya, FUI akan menyerahkan bukti-bukti keterlibatan pihak asing ini ke Mendagri sebagai bahan pertimbangan. "Syarat sebuah ormas dibubarkan salah satunya adalah mendapat bantuan dari asing. Bukti ini akan kami serahkan ke Mendagri sebagai pertimbangan saja," katanya. (Detik)(www.swaramuslim)
Insiden Monas, Upaya Pembunuhan Karakter Umat Islam

Tuntutan terhadap pembubaran Ahmadiyah dan counter terhadap isu yang mendiskreditkan kelompok Islam tidak harus dilakukan dengan turun ke jalan. Ba'da Sholat Jum'at, sekitar 200 orang menghadiri Tabligh Akbar bertajuk Membangun Ukhuwah dan Kesatuan Umat Menolak Adu Domba, yang diselenggarakan Forum Umat Islam.
Acara tersebut diisi dengan tausyiah dari tokoh-tokoh Islam, dalam menyikapi Insiden Monas yang di mana tampak indikasi upaya untuk memecahbelah umat Islam.
Ketua Majelis Syuro Front Pembela Islam Habib Muhsin Alatas mengatakan, ada skenario global di balik insiden Monas 1 Juni lalu, di mana agen-agen asing ikut bermain didalamnya.
Bahkan, menurutnya, ada upaya pembunuhan karakter terhadap Habib Rizieq dan FPI yang selalu dengan lantang menyuarakan pembubaran Ahmadiyah.
"Kita menuntut pada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah dari bumi Indonesia. Kita juga meminta jangan hanya FPI yang diproses, AKKBB juga harus diproses termasuk tokoh intelektualnya seperti Gus Dur, Syafii Maarif dan lainnya juga harus diproses, " tegasnya yang disambut dengan gema takbir.
Sementara itu, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia M. Ismail Yusanto menyatakan, apa yang sedang terjadi ini adalah bentuk ketidakadilan terhadap umat Islam yang merupakan penduduk muslim mayoritas. Ia menegaskan, ketidakadilan ini akan terus terjadi negara ini tidak dipimpin oleh pemimpin yang tidak amanah, dan pemipin yang tergantung pada pihak asing, bukan pada dzat yang maha adil (Allah SWT).
"Dalam situasi seperti ini, umat Islam harus dapat membalikan opini yang sudah berkembang, " ujarnya.
Ia menilai perhatian berlebihan yang diambil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pasca Insiden Monas menjadi pertanyaan besar, padahal ketika peristiwa rusuh demo BBM pemerintah sama sekali enggan berkomentar, dan tidak mengeluarkan instruksi yang berlebihan terhadap aparat penegak hukum. Apakah ini skenario untuk menggagalkan terbitnya SKB Ahmadiyah, atau hanya sekedar mengalihkan dari isu BBM?(novel)(www.eramuslim)
Rabu, 04 Juni 2008
Kaum Ateis Pun Berhak Hidup di Muka Bumi

Ahmad Syafii Maarif
Dari pemahaman terhadap Alquran, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa beriman lebih baik daripada kufur. Ujung kufur hanya satu: malapetaka di sini atau di alam nanti atau pada kedua alam itu. Tetapi, iman saja tidak cukup tanpa diikuti oleh amal saleh. Iman memberi dasar ontologis yang teramat kokoh bagi kehidupan manusia. Sedangkan, amal saleh adalah bukti dan buah nyata bahwa iman seseorang itu benar-benar autentik. Orang yang mengaku beriman, tetapi tuna-amal saleh adalah iman palsu, iman tanpa bukti empirik.
Amal saleh meliputi semua perbuatan yang dicintai Allah, fisikal maupun spiritual, material, dan immaterial. Dengan demikian, radius cakupannya sungguh luas hampir tanpa tepi. Orang yang mengira bahwa amal saleh itu hanyalah sekadar mengisi infaq di saat shalat Jumat, jelas tidak paham substansi amal saleh itu. Dengan kata lain, amal saleh dalam makna filosofis tidak lain daripada membangun peradaban yang adil dan asri untuk semua makhluk di muka bumi, tanpa kecuali, termasuk untuk mereka yang tidak beriman.
Di depan hukum negara, kedudukan orang beriman dan mereka yang tuna-iman hampir tak berbeda. Seorang beriman sama hukumannya dengan orang yang tuna-iman. Jika mereka melakukan kejahatan serupa, sama sekali tidak boleh berlaku diskriminasi. Tuna-iman barangkali sama dengan ateisme. Ateisme sebenarnya juga sebuah kepercayaan, yaitu percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Adiknya adalah agnotisisme yang percaya bahwa manusia tidak mungkin tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak.
Dalam pemahaman saya terhadap Alquran, seorang manusia diberi hak dan kebebasan untuk beriman atau tidak beriman (lih. Misalnya Surat Yunus: 99; Albaqarah: 256; Al Isra: 107). Risiko dari pilihan bebas ini sangat logis, yaitu bahwa manusia tidak punya alasan lagi untuk menggugat Allah jika nasib malang menimpa dirinya, kapan pun dan di mana pun, di sini atau di sana, di seberang kubur.
Menurut pemahaman saya, seorang warga beriman dapat saja bertetangga dengan warga ateis, dengan syarat agar mereka saling menghormati dan sama-sama patuh kepada konstitusi dan hukum positif yang berlaku. Bahkan lebih jauh dari itu, seorang beriman dapat berguru kepada seorang ateis, begitu juga sebaliknya, asal tidak ada paksaan. Dosen bahasa Persi saya di Universitas Chicago, asal Inggris, pada suatu kesempatan pernah mengatakan: "Dalam Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (punya potensi untuk beriman), tetapi menurut saya sebaliknya, seorang manusia dilahirkan dalam keadaan ateis."
Kita dapat saja menuding dosen ini edan, tetapi itulah fakta yang terungkap. Bagaimana sebenarnya gejolak hati yang di dalam, bukan urusan kita untuk menanyakan lebih lanjut, dan tidak ada gunanya. Pergaulan saya dengan dosen ini biasa saja, jika hasil ujian saya bagus diberinya angka A, jika kurang memuaskan dikasihnya B, tetapi angka C tidak pernah saya peroleh dari dosen ateis ini. Kesan saya dalam masalah angka-angka ini tidak ada kaitannya dengan iman atau tuna-iman.
Jika di Amerika orang diberi kebebasan untuk memilih, dalam kasus ini sesungguhnya negara itulah yang melaksanakan diktum Alquran di atas. Oleh sebab itu, di sebuah negara Muslim, jika kaum ateis tidak diberi hak hidup misalnya, maka dapat dikatakan bahwa diktum Alquran di atas yang demikian terang tidak dijadikan pedoman dan acuan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagaimana negara Pancasila? Andalah yang harus menjawabnya, bukan saya.
Dalam perkembangan pemikiran manusia, isu-isu seperti yang saya lontarkan ini, lambat atau cepat, pasti akan mengemuka. Resonansi kali ini adalah antisipasi untuk serba kemungkinan itu. Seorang beriman tidak perlu risau dengan semuanya itu. Karena, iman sebagai hasil pilihan sadar akan bertahan abadi, sementara iman sebagai buah bujukan benda atau posisi, biasanya teramat rapuh.
_
Republika, 27 Mei 2008 (www.muhammadiyah.or.id)
Sabtu, 31 Mei 2008
PEMURNIAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH
Amal usaha adalah sebuah istilah khas Muhammadiyah. Ia merupakan sebuah bentuk aktivitas, yang merupakan penjabaran dari USAHA atau POLA TUGAS Muhammadiyah sebagaimana dirumuskan dalam pasal 3 Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah.
Aktivitas dalam Muhammadiyah dapat dibedakan menjadi : aktivitas pimpinan, aktivitas pelayanan dan aktivitas operasional, sedangkan amal usaha adalah aktivitas operasional. Sebenarnya secara teoritis, ketiga aktivitas tersebut dapat saja disebut sebagai amal usaha, kalau kita sependapat bahwa amal usaha itu adalah sebuah bentuk aktivitas yang merupakan penjabaran dari usaha atau pola tugas Muhammadiyah. Namun dalam prakteknya, baik aktivitas pimpinan maupun aktivitas pelayanan, tidak lazim diistilahkan dengan amal usaha. Sebagai contoh, kita tidak lazim menyebut amal usaha untuk aktivitas yang dilakukan dalam rangka planning, organizing, actuating dan controlling misalnya. Demikian pula, kita juga tidak terbiasa menyebut amal usaha untuk aktivitas dalam rangka penyiapan personil, penyediaan dana, penyediaan perbekalan dan sebagainya. Adapun aktivitas operasional dan hasilnya, yang meliputi antara lain bidang: penyiaran Islam (tabligh), pendidikan, baik tingkat dasar dan menengah maupun tingkat tinggi, bidang pembinaan ekonomi dan sebagainya, inilah yang lazim disebut amal usaha. Sebagai contoh, SD Muhammadiyah 4 atau Ponpes Istiqomah Samarinda, yang merupakan hasil proses aktivitas di bidang pendidikan adalah merupakan sebuah amal usaha, atau RSIA Aisyiyah Samarinda, sebagai hasil proses aktivitas di bidang pelayanan kesehatan adalah sebuah amal usaha, demikian seterusnya.
Sebagai penjabaran dari usaha atau pola tugas Muhammadiyah, jelas bahwa amal usaha adalah merupakan salah satu bentuk pelaksanaan dakwah dan amar makruf nahi munkar. Sebab sebagaimana telah kita pahami, bahwa usaha atau pola tugas yang dirumuskan dalam ART Muhammadiyah pasal 3 tersebut pada hakekatnya adalah merupakan operasionalisasi dari misi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar. Sebagai manifestasi dari misi Muhammadiyah, amal usaha yang diselenggarakan dalam berbagai bidang kehidupan, dengan berbagai bentuk kegiatan itu harus mencerminkan dan memiliki wajah dakwah. Ini berarti bahwa amal usaha dalam bidang apapun harus memiliki ciri-ciri:
1. Dapat mempersubur tumbuh kembangnya keyakinan tauhid yang murni
2. Merupakan realisasi dari ajaran Islam yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah
3. Menjadi sarana dakwah dan amar makruf nahi munkar
4. Menggunakan akal pikiran yang cerdas
5. Memiliki kualitas dan keunggulan yang dihandalkan
Kalau kita cermati, bagaimana sebuah amal usaha dikelola, kita menjumpai masih adanya sebagian pimpinan dan pengelola amal usaha, yang kurang memperhatikan dan memahami prinsip-prinsip di atas. Kita masih melihat adanya pengelolaan amal usaha yang nuansa bisnisnya lebih kental ketimbang nuansa dakwahnya. Bahwa setiap penyelenggaraan amal usaha di bidang apapun pasti memerlukan biaya, ini bisa dipahami. Demikian pula, kebijakan menjadikan pelanggan yang menerima dan menikmati jasa dan produk dari amal usaha ini sebagai salah satu sumber dana, ini juga dapat dipahami. Yang tidak dapat dipahami adalah kalau amal usaha itu semata-mata dijadikan sebagai lahan dan sumber dana dengan mengabaikan prinsip-prinsip dakwah dan qaidah persyarikatan, sehingga terkesan adanya komersialisasi amal usaha. Kalau ini sampai terjadi, tentunya perlu dipertanyakan, apakah amal usaha tersebut masih pantas disebut sebagai amal usaha Muhammadiyah.
Satu contoh lagi, bagaimana pengelolaan sebuah amal usaha yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang seharusnya ditegakkan di lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Kita masih melihat adanya amal usaha Muhamamdiyah, yang di dalamnya tidak terkesan bahwa amal usaha itu adalah milik dari sebuah Gerakan Islam, Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar. Memperhatikan sikap para pengelolanya kita mendapatkan kesan bahwa sikap yang diperlihatkan, bukanlah sikap Islami yang penuh kerahmatan dan kedamaian. Hubungan sesama mereka justru diliputi suasana saling curiga dan diwarnai iklim persaingan yang tidak sehat, akibat berebut pengaruh dan kedudukan. Demikian pula dengan hubungan dengan persyarikatan, terkesan tidak taat dan terpaksa, karena memakai nama Muhammadiyah.
Pengelolaan amal usaha sebagaimana dilukiskan di atas, meski terkesan agak ekstrim, jelas tidak dilandaskan pada nilai-nilai Islam, yang untuk tegaknya nilai-nilai tersebut menjelang satu abad Muhammadiyah telah berjuang dengan sungguh-sungguh. Amal usaha yang dikelola dengan cara-cara seperti itu, betapapun hebat dan megahnya, ia tidak berarti apa-apa buat Muhammadiyah. Sebab bagaikan tubuh, ia telah kehilangan ruhnya.
Atas dasar ini, maka upaya pemurnian amal usaha dengan istilah memuhamadiyahkan amal usaha, merupakan sebuah tuntutan yang tidak dapat ditunda-tunda. Seluruh amal usaha dalam bidang apapun, harus segera dikembalikan ruhnya, sesuai motivasi dan niat awal yang melatarbelakangi mengapa dan untuk apa selama ini Muhammadiyah menyelenggarakan amal usaha.(ay1)
PENGERTIAN TENTANG DAKWAH
Dakwah pada pokoknya berarti ajakan atau panggilan yang diarahkan pada masyarakat luas untuk menerima kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dakwah merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam di semua bidang kehidupan. Dipandang dari kacamata dakwah, kehidupan manusia merupakan suatu kebulatan. Sekalipun kehidupan dapat dibedakan menjadi beberapa segi, tetapi dalam kenyataan kehidupan itu tidak dapat dipisah-pisahkan.
Secarta teori kita bisa membedakan antara kehidupan-kehidupan berpolitik, ekonomi, budaya, sosial, hukum dan lain sebagainya, tetapi secara realitas kehidupan-kehidupan tersebut menyatu bulat menjadi suatu keutuhan. Oleh karena itu kita jangan sampai terjebak dalam sebuah pemikiran seolah-olah berbagai kehidupan itu terpisah satu sama lain.
Para Rasul dan Nabi adalah tokoh-tokoh dakwah yang paling terkemuka dalam sejarah umat manusia. Mereka adalah pendakwah-pendakwah yang sempurna. Dibandingkakan dengan para Rasul dan Nabi itu, kita memang bukan apa-apa. Akan tetapi kita boleh sedikit berbangga bahwa pada hakikatnya kita telah berusaha memilih jalan untuk bergabung dengan para Rasul dan Nabi, sehingga dapat dikatakan, Insya Allah kita semua termasuk rombongan para kekasih Allah.
Kita bukan pengikut Karl Marx atau Vladimir Lenin. Kita juga tidak akan pernah mengikuti paham-paham hidup yang menyesatkan, apakah itu sekularisme, sosialisme, materialisme, liberalisme, hedoneisme, dan lain sebagainya. Akan tetapi kita mengikuti Rasul yang kita cintai Nabi Muhammad SAW. Konsekwensi dari pilihan kita itu adalah bahwa kita harus senantiasa berusaha mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW, termasuk jejak langkah beliau dalam menggerakan dakwah, amar makruf nahi munkar.
Dalam Islam dikenal istilah dakwah dan tabligh. Secara kebahasaan kata dakwah berarti panggilan, seruan atau ajakan, sedangkan kata tabligh berarti penyampaian materi. Keduanya memiliki pengertian yang hampir sama. Jika dakwah berarti mengajak seseorang atau sekelompok orang untuk memeluk agama Islam, maka tabligh berarti menyampaikan ajaran Islam kepada seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan agar orang atau kelompok itu bersedia memeluk agama Islam demi kebaikan mereka di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. Pelaku dakwah disebut da’i sedangkan pelaku tabligh disebut muballigh. Tabligh adalah bagian dari dakwah, tetapi dakwah tidak hanya dilakukan dengan tabligh.
Dalam pengertian yang luas dakwah adalah upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar memeluk dan mengamalkan ajaran Islam atau untuk mewujudkan ajaran Islam ke dalam kehidupan yang nyata. Dakwah dalam konteks ini dapat bermakna pembangunan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan dan keterbelakan serta pembebasan. Dakwah juga bisa berarti penyebarluasan rahmat Allah, sebagaimana telah ditegaskan dalam Islam dengan istilah rahmatan lil alamin. Dengan pembebasan, pembangunan dan penyebarluasan ajaran Islam, berarti dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan manusia atau masyarakat dari kehidupan yang tidak Islami menjadi suatu kehidupan yang Islami. Atas dasar ini, esensi dakwah dalam Islam adalah mengajak kepada kebaikan, yad’uuna ilalkhair, memerintahkan kepada yang makruf, ya’muruuna bil ma’ruf dan melarang dari yang munkar, yanhauna anilmunkar, dalam pengertian yang seluas-luasnya. QS.Ali Imran(3):110,
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dakwah di zaman Nabi Muhammad SAW melalui tiga bentuk, yaitu lisan, tulisan dan perbuatan. Dakwah melalui lisan pertama kali dilakukan nabi kepada istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya. Dakwah melalui tulisan dilakukan nabi dengan cara mengirim surat yang berisi seruan, ajakan atau panggilan untuk menganut agama Islam kepada raja-araja dan kepala-kepala pemerintahan dari negara-negara di sekitar Jazirah Arab. Sedangkan dakwah melalui perbuatan nyata adalah dengan merintis dan mempraktekan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga bentuk dakwah di atas dapat dilakukan oleh setiap orang Islam sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing dalam segala kegiatan hidup dan kehidupannya.
Dimensi yang tercakup dalam dakwah meliputi :
1. Dimensi Kerisalahan
QS.Al Maidah(5):67
Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[430] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
QS.Ali Imran(3):104
dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.
[217] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
2. Dimensi Kerahmatan
QS.Al Anbiya(21):107
dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
3. Dimensi Kesejarahan
QS.Al Hasyr(59):18
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dimensi kerisalahan dipahami sebagai upaya meneruskan tugas Rasulullah untuk menyeru agar manusia lebih mengetahui, memahami, menghayati(mengimani) dan mengamalkan Islam sebagai pandangan hidup. Sedang dimensi kerahmatan bermakna untuk mengaktualkan Islam sebagai rahmat (jalan hidup yang menggembirakan, memudahkan, dan menyejahterakan) bagi umat manusia. Adapun dimensi kesejarahan mengandung upaya mengaktualkan peran kesejarahan manusia beriman dalam memahami dan mengambil pelajaran masa lalu untuk kepentingan mempersiapkan masa depan yang gemilang.
Sedangkan metode dakwah secara umum dan menjadi acuan, merujuk pada firman Allah SWT dalam al Qur’an, yaitu metode hikmah, maw’idhah hasanah dan mujadalah billati hiya ahsan QS.an Nahl(16):125:
serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Dakwah dengan hikmah berarti penyampaian dakwah dengan terlebih dahulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara benar serta mendalam orang atau masyarakat yang menjadi sasarannya. Dalam kaitan ini, sasaran dakwah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu umat ijabah dan umat dakwah. Umat iajabah adalah individu dan masyarakat yang telah masuk Islam, sedangkan umat dakwah adalah individu dan masyarakat yang belum masuk Islam. Metode dakwah kedua adalah metode mau’idhah hasanah. Metode ini mengandung arti memberi kepuasan kepada jiwa orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Islam itu dengan cara-cara yang baik, seperti dengan memberi nasihat, dan contoh teladan yang baik. Metode dakwah jenis kedua ini terkait dengan sifat dakwah yang memudahkan (taysir), menyenangkan dan menggembirakan (tabsyir). Sementara ini, metode dakwah yang ketiga adalah metode mujadalah bil lati hiya ahsan. Metode ini diartikan bertukar pikiran dengan cara-cara terbaik yang dapat dilakukan, sesuai dengan kondisi orang-orang dan masyarakat sasaran.
Metode apapun dalam berdakwah, yang pasti dakwah harus dijadikan sebagai alat untuk melakukan perubahan individu atau masyarakat, dari kehidupan yang belum Islami menjadi kehidupan yang Islami. Dalam konteks ini, dakwah yang dilakukan seorang da’i atau muballigh harus bersifat korektif, panduan dan integratif. Dakwah bersifat korektif, karena dakwah selalu mengoreksi kecenderungan perkembangan masyarakat yang makin menjauh atau bahkan bertentangan dengan tatanan Islam, baik yang menyangkut tata nilai maupun tata kehidupan. Dakwah bersifat panduan, karena dakwah itu berarti membimbing atau memandu gerak masyarakat Islami. Sementara dakwah bersifat integratif, karena dakwah berfungsi sebagai suatu pendorong perkembangan masyarakat.(ay1)
Jumat, 30 Mei 2008
Din : Dakwah Islam Itu Merangkul Bukan Memukul

Arif Nur Kholis
Rabu, 28 Mei 2008
Sarajevo-Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof.Dr.Din Syamsuddin mengatakan bahwa watak dari dakwah Islamiyah adalah mengajak bukan mendepak, dan merangkul bukan memukul. Din menerangkan bahwa pernyatan Demikian seperti dikatakannya pada pertemuan Dewan Dakwah Islamiyah Sedunia (World Islamic Call Society atau WICS) yang berlangsung di Sarajevo, Bosnia 27 sampai 29 Mei 2008. Pertemuan dihadiri 60 anggota Majelis Tinggi WICS.
Melalui pesan singkat yang diterima muhammadiyah.or.id malam tadi (27/05/2008) Din Syamsuddin, wakil Indonesia di Majelis Tinggi tersebut, lebih lanjut mengatakan, banyak ayat al-Qur'an dan al-Hadits yang menekankan pentingnya mengajak manusia ke jalan Allah dengan penuh kebijaksanaan. Ajaran ini yang menjadi faktor penentu keberhasilan dakwah Nabi Muhammad baik di Mekkah maupun Madinah dahulu kala, dan dakwah para wali songo di Indonesia.
Ajaran ini, menurut Din, dewasa ini kurang diterapkan umat Islam di dunia, sehingga dakwah Islam cenderung ekslusif (mengeluarkan) bukan inklusif(memasukan). Sebagai akibatnya, jangankan yang masih jauh mau masuk Islam, yang sudah dekat pun bisa menjauh.Oleh karena itu, Din Syamsuddin yang juga Presiden Asian Conference on Religions for Peace (ACRP), memandang perlunya reorientasi strategi dakwah ke arah merebut simpati daripada menebar antipati. Adanya kekerasan yang dilakukan sebagian umat Islam, antipati tersebut berkembang menjadi Islamofobia atau kebencian terhadap Islam, sebagaimana yang melanda dunia dewasa ini. “Keadaan demikian tidak menguntungkan umat Islam sendiri, ujarnya. Dalam konteks Indonesia, lanjut Din, kecenderungan seperti itu terjadi, namun bukan arus utama. Masih sangat banyak ulama dan da'i yang berorientasi dakwah bilhikmah, yaitu mereka yang terus berdakwah dengan penuh kebijaksanaan dan tanpa berputus asa terhadap tantangan yang ada.
Pamitan Kepada Wapres dan Muktamirin
Siang harinya, Din sempat berpamitan kepada Muktamirin atas ketidakhadirannya dalam Pembukaan Muktamar IMM ke XIII di Bandar Lampung melalui pesan singkat yang dibacakan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Rosyad Sholeh. Dalam pesan tersebut Din juga meminta ma’af kepa Wapres Jusuf Kalla yang membuka acara tersebut. Din menyatakan akan menhadiri penutupan Mukatamar tanggal 31 Mei nanti sepulangnya dari Sarajevo. (arif)(www.muhammadiyah.or.id)
Rabu, 28 Mei 2008
Polisi Belanda Minta Anggotanya Baca Terjemahan Al-Quran dan Buku Biografi Rasulullah
.jpg)
Kepolisian Belanda mendorong para anggotanya untuk membaca terjemahan al-Quran dan biografi Nabi Muhammad Saw untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang Islam. Para pimpinan di kepolisian bahkan menyatakan akan mengganti uang para staffnya-setengah dari harga buku-yang digunakan untuk membeli terjemahan al-Quran dan buku biografi tersebut
Juru bicara kepolisian Belanda Ebe van der Land mengatakan, "Dua buku ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik serta tambahan pengetahuan tentang al-Quran dan kehidupan Nabi Muhammad Saw."
Seruan kepolisian Belanda ini terkait dengan diterbitkannya terjemahan al-Quran dan buku biografi Rasululllah berjudul "The Message" di Belanda, karya penulis asal Iran Hossein Sadjadi Ghaemmaghami yang menggunakan nama pena Kader Abdolah.
Terjeman al-Quran dan buku biografi Rasulullah itu diterbitkan pada bulan April kemarin, dan mendapat sambutan positif dari masyarakat Belanda. Penyusun terjemahan al-Quran dan penulis buku "The Message", Kader Abdolah tinggal di Belanda sejak tahun 1988 atas undangan PBB dan statusnya ketika itu adalah pengungsian politik.
Sejak masih menjadi mahasiswa jurusan fisika di perguruan tinggi Arak di Teheran, Abdolah dikenal aktif dalam gerakan bawah tanah sayak kiri yang menentang rejim Shah Iran. Namun ketika Shah Iran terguling, Abdolah juga menentang pemerintahan Khomeini.
Abdolah meninggalkan Iran pada tahun 1985 dan ia menggunakan Kader Abdolah sebagai nama penanya sebagai penghormatan terhadap sahabat-sahabatnya yang menjadi korban rejim di Iran. Sejauh ini, ia sudah menulis tiga novel, dua di antaranya berkisah tentang kehidupan di bawah rejim Khomeini. Selain novel, Abdolah juga menerbitkan kumpulan cerita pendeknya dan berbagai tulisan non-fiksi.
Sejak tinggal di Belanda, Abdolah dengan cepat menguasai bahasa Belanda. Karya-karyanya yang banyak menceritakan percampuran dua budaya, selalu masuk dalam daftar buku bestseller. Tahun 1997, Abdolah menerima penghargaan Dutch Media Prize untuk kumpulan kolom-kolomnya di harian de Volkskrant.
Terbitnya terjemahan al-Quran dan buku biografi Rasulullah di Belanda, diharapkan bisa meluruskan pandangan yang salah masyarakat Belanda tentang Islam, Muslim dan Nabi Muhammad Saw. Apalagi baru-baru ini Belanda menuai banyak kecaman akibat film "Fitna" yang dibuat oleh Geert Wilders, anggota parlemen Belanda yang anti-Islam.
Belum lama ini, polisi Belanda juga menangkap seorang kartunis Belanda bernama Gregorius Nekschott karena membuat gambar-gambar kartun yang menghina umat Islam.
Saat ini, ada sekitar satu juta dari 16 juta total penduduk Negeri Kincir Angin itu. Mayoritas Muslim Belanda berasal dari Turki dan Maroko. (ln/al-arby/iol)(eramuslim.com)
Langganan:
Postingan (Atom)




